Posted by: agustan | March 12, 2011

Tsunami Sanriku

Gempa ini berpotensi membangkitkan tsunami (terjadi di laut, patahan naik, gempa dangkal-hanya sekitar kedalaman 24 km, dengan kekuatan lebih dari delapan) dan berdasarkan data batimetri ETOPO-1, distribusi slip dari Dr. Gavin Hayes (USGS) dan model deformasi dari Okada, tsunami dapat dimodelkan dengan program MIRONE dari Prof. J Luis.

Hasil pemodelan memperlihatkan gelombang tsunami memasuki wilayah Indonesia bagian utara-timur setelah detik ke 22800 atau setelah 6 jam. Jika asumsi jarak lokasi gempa ke wilayah Indonesia sekitar 4500 km, maka kecepatan cepat rambat gelombang tsunami sekitar 750 km/jam. Juga terlihat minimal ada 3 kali sapuan gelombang yang akan masuk.

Tsunami setelah 1200 detik

Tsunami setelah 6 jam

Model waktu penjalaran tsunami (kontur dalam jam)

 

 

Animasi Tsunami

Posted by: agustan | March 12, 2011

Tiga Wilayah Sanriku

Sebuah daerah di bagian utara timur Pulau Honshu dikenal dengan nama Sanriku (さんりく atau 三陸). Sistem kanji lebih gampang dimengerti dengan konotasi dari “gambar” kanji yang mewakili makna tertentu. Kanji “Sanriku” terdiri dari 2 unsur yaitu “San” yang artinya “tiga” (diwakili gambar “三”) dan Riku yang artinya “tanah atau pantai” (diwakili gambar “陸”), sehingga Sanriku dapat dimengerti sebagai sebuah wilayah yang terdiri dari tiga daerah. Nama ini terkait dengan legenda rakyat tentang dewa yang mampu menaklukkan roh jahat dengan tiga batu karang.

Berdasarkan sejarah, daerah ini mengalami gempa besar dengan tsunami dan korban jiwa yang signifikan tahun 1896 (Mw ~8.1 Tanioka, Y. dan Seno T.; 2001) dan tahun 1933 (Mw ~8.4). Sedang untuk kekuatan ~Mw <8 kejadian dan interval gempanya lebih sering.

Hari ini, 11 Maret 2011, 05.46.23 UTC sebuah gempa kembali terjadi di sekitar lokasi gempa-gempa yang disebutkan di atas dengan kekuatan Mw.8.9. Gempa besar ini juga mengakibatkan tsunami di daerah Sanriku dengan tinggi rata-rata 4 meter. Sebelumnya, 2 hari yang lalu tanggal 9 Maret 2011, juga terjadi gempa “pendahuluan” dengan kekuatan Mw. 7.2. Kemungkinan gempa tanggal 9 Maret ini memicu gempa besar hari ini.

Berdasarkan analisis inversi data broadband seismometer, Dr. G. Hayes (USGS) telah menghitung parameter gempa ini yang dapat dimodelkan untuk menghitung deformasi permukaan dan pemodelan perambatan gelombang tsunami. Hasilnya dapat dilihat pada gambar-gambar berikut.

Model distribusi slip akibat gempa 11 Maret 2011

Dari distribusi slip ini, deformasi permukaan dapat dimodelkan berdasarkan persamaan Okada. Dari pemodelan terlihat terlihat permukaan mengalami kenaikan lebih dari 5 meter di dasar laut, tetapi di beberapa bagian daratan mengalami penurunan atau subsidence lebih dari 1 meter. Hal ini disebabkan karena mekanisme gempa yang terjadi adalah “patahan naik atau thrust fault” seperti yang terlihat dari “beach ball atau focal mechanism” yang kadang mencari ciri gempa di zona tumbukan lempeng atau subduksi.

Deformasi vertikal permukaan akibat gempa

Mekanisme gempa patahan naik (thrust fault mechanism)

Mekanisme gempa dengan patahan naik ini sangat berpotensi membangkitkan tsunami. Dari analisis Dr. Hayes juga menyimpulkan bahwa sudut gempa (dip angle) sekitar 9 derajat yang mencerminkan penunjaman yang landai sehingga secara geometri akan menimbulkan dampak yang cukup jauh.

Karena lokasi pusat gempa yang menyebabkan tsunami ini berada di laut terbuka, tentu saja hamburan gelombang bisa bergerak ke segala arah, tetapi sangat dominan ke arah “tubrukan” yaitu azimuth 195 derajat (arah selatan-barat) yang juga ditentukan dari inversi data broadband seismometer. Itulah sebabnya gelombang tsunami dominan menjalar ke selatan, salah satunya menuju kawasan utara-timur Indonesia.

Posted by: agustan | October 29, 2010

Mentawai

Kepulauan Mentawai yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatera terdiri dari 4 pulau utama yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.

Literatur dari http://www.mentawai.org/hismart.htm menceritakan bahwa:
orang di Pulau Sumatera menyebut penduduk Pagai ini ‘orang Mantawee’ yang berasal dari kata “mantaoo” (bahasa Minang?), sementara penduduk Pagai sendiri menyebut dirinya sebagai orang Pagai. Awalnya penduduk Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan dianggap berbeda suku, tetapi setelah diteliti ulang ternyata satu suku dan disebut sebagai suku Mentawai.

Tanggal 25 Oktober 2010, pukul 21:42:22 terjadi gempa di daerah Kepulauan Mentawai. USGS mencatat gempa ini berkekuatan 7.7 skala moment magnitude. Berdasarkan Finite Fault Model hasil inversi broadband waveforms oleh Hayes (2010) dapat dimodelkan deformasi permukaan akibat gempa tersebut. Akibat gempa ini diperkirakan pesisir pantai Pulau Pagai Utara dan Selatan mengalami penurunan dari 2 cm sampai 9 cm.

Deformasi Permukaan

Model Patahan dari USGS

Turut berduka cita atas korban bencana ini…
Ya Allah, berikanlah Kami ketabahan, kesabaran dan kemampuan untuk memahami segala hikmah yang tersembunyi dari kejadian ini. Ya Allah lindungilah Kami, jauhkanlah Kami dari segala mara bahaya…Amiin ya rabbal alamin.

Posted by: agustan | August 18, 2010

Ujungpandang

Tiga puluh enam tahun yang lalu, bertepatan hari Ahad, saya pertama kali menghirup udara dunia di sebuah rumah sakit bersalin Sentosa, depan Gubernuran Kota Ujungpandang.

Saat ini nama Ujungpandang (1971-1999) sudah berubah kembali menjadi Makassar, sama dengan nama awal waktu didirikan.

Makassar, menurut beberapa hikayat (misalnya dari http://cityguide.yellowpages.co.id/Overview.aspx?CityID=8) berasal dari “Mangkasara atau Akkasaraki Nabbiya” (Menjelmanya sang Nabi). Menurut hikayat, selama tiga hari berturut-turut Baginda Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri KaraEng Katangka yang merangkap Tuma’bicara Butta ri Gowa (lahir tahun 1573), bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilau terpancar keseluruh Butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya. Malam Jum’at tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H atau tanggal 22 September 1605 M. (Darwa rasyid MS. Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV s/d XIX, hal.36), di bibir Pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Ternyata lelaki sedang melakukan sholat. Cahaya terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo dan membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda KaraEng Katangka. Baginda bergegas ke pantai. Tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya.Lalu ia menjabat tangan Baginda Raja yang kaku lantaran takjub lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda “Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. Baginda terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda KaraEng Katangka lalu bergegas ke pantai. Betul seorang lelaki tampak menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.
Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad SAW sendiri.
Lelaki yang mendarat di pantai Tallo itu adalah Abdul Ma’mur Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Dato’ri Bandang, berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat). Baginda Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Manyonri KaraEng Katangka setelah memeluk Agama Islam kemudian bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam KaraEng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.

Lebih jauh, penyusuran asal nama “Makassar” dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:
1. Makna.
Untuk menjadi manusia sempurna perlu “Ampakasaraki”, yaitu menjelmakan (menjasmanikan) apa yang terkandung dalam bathin itu diwujudkan dengan perbuatan. “Mangkasarak” mewujudkan dirinya sebagai manusia sempurna dengan ajaran TAO atau TAU (ilmu keyakinan bathin). Bukan seperti yang dipahami sebagian orang bahwa “Mangkasarak” orang kasar yang mudah tersinggung. Sebenarnya orang yang mudah tersinggung itu adalah orang yang halus perasaannya.

2. Sejarah.
Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama “Makassar”. Abad ke-16 “Makassar” sudah menjadi ibu kota Kerajaan Gowa. Dan pada Abad itu pula, Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal oleh bangsa asing. Bahkan dalam syair ke-14 Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar telah tercantum.

3. Bahasa.
Dari segi Etimologi (Daeng Ngewa, 1972:1-2), Makassar berasal dari kata “Mangkasarak” yang terdiri atas dua morfem ikat “mang” dan morfem bebas “kasarak”. Morfem ikat “mang” mengandung arti: a). Memiliki sifat seperti yang terkandung dalam kata dasarnya. b). menjelma diri seperti yang dinyatakan oleh kata dasarnya. ­Morfem bebas “kasarak” mengandung (arti: a). Terang, nyata, jelas, tegas. b). Nampak dari penjelasan. c). Besar (lawan kecil atau halus). Jadi, kata “Mangkasarak” Mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (Jujur). Sebagai nama, orang yang memiliki sifat atau karakter “Mangkasarak” berarti orang tersebut besar (mulia), berterus terang (Jujur). Sebagaimana di bibir begitu pula di hati.

Foto Pantai Losari saat matahari terbenam…

Posted by: agustan | August 27, 2009

Anak Krakatau, Penerus Dinasti Krakatau yang kian Dewasa

Intro Toponimi: Beberapa versi tentang nama Krakatau: Krakatoa, Karkata, Rakata. Akar katanya adalah Rakata, bahasa Sansekerta yang berarti kepiting. Pulau Sertung, sebelum letusan 1883 bernama Verlaten Eiland (pulau yang ditinggalkan); Pulau Panjang sebelum letusan 1883 bernama Lang Eiland, yang juga berarti panjang (Verbeek dan Ferzenaar).

Tepat 126 tahun yang lalu, pada hari Senin, tanggal 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meledak dan meningglkan beberapa catatan sejarah dunia. Mulai dari tsunami yang menyapu pantai Jawa bagian utara dan barat, Sumatra bagian selatan, sampai terjadinya perubahan iklim secara global. Semburan debu ke angkasa yang menghalangi sinar matahari bahkan terasa sampai ke benua Australia dan Eropa. Korban yang meninggal tercatat sekitar 36.000 jiwa. Tanda-tanda akan meletusnya Gunung Krakatau ini didahului oleh beberapa gempa kecil di Selat Sunda sekitar tahun 1870an. Letusan pertama Gunung Krakatau tercatat pada tanggal 20 Mei 1883 dan terus berlangsung hingga mencapai puncaknya pada tanggal 27 Agustus 1883. Tercatat empat kali letusan raksasa pada pukul 05.30, 06.44, 10.02 dan 10.52 waktu setempat yang menghancurkan dua pertiga dari badan gunung itu sendiri. Gambar di bawah mengilustrasikan betapa dahsyatnya letusan pada hari itu yang diwakili oleh perubahan Gunung Krakatau sebelum, sesudah dan kondisi saat ini.

Ilustrasi Kompleks Krakatau

Ilustrasi Kompleks Krakatau

Sebelum letusan, Kompleks Krakatau terdiri dari 4 pulau yaitu (nama dituliskan sesuai dengan waktu pencatatan): Verlaten, Lang, Polish Hat dan Krakatau. Saat itu Pulau Krakatau terdiri dari beberapa kawah dan puncak, yang tercatat adalah Perbuwatan, Danan dan Rakata dengan letak yang diilustrasikan pada gambar 1a. Akibat letusan dahsyat 126 tahun yang lalu tersebut, Pulau Krakatau dan Polish Hat yang diilustrasikan dengan garis biru putus-putus pada gambar 1a, hancur dan menyisakan puncak Rakata yang menjadi Pulau Rakata saat ini.
Kompleks Krakatau tidak bisa dipisahkan dari kondisi dan karakter dari Selat Sunda. Aktifitas yang terjadi di Kompleks Krakatau dipengaruhi oleh mekanisme tektonik dari Selat Sunda. Selat Sunda. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa Selat Sunda merupakan tempat yang unik karena antara lain (Harjono, 1989, 1991; Susilohadi, 2009): menjadi daerah transisi antara zona subduksi Sumatra yang miring dengan zona subduksi Jawa yang lurus; terjadi mekanisma pembukaan akibat gerakan tektonik yang menjauh antara Sumatra dan Jawa, dan terjadi fenomena daerah turun (graben). Mekanisme ini yang menjadi sumber tingginya aktifitas kegunungapian di Krakatau Kompleks. Hal ini bisa dilihat setelah letusan raksasa tahun 1883, daerah ini hanya butuh 46 tahun untuk menampung energi di Selat Sunda yang menghasilkan lahirnya gunung api baru pada tanggal 18 Februari 1929 yang kemudian dikenal dengan nama Anak Krakatau (Sutawidjaja, 1997).
Perkembangan Anak Krakatau termasuk cepat, yang usianya sudah 80 tahun saat ini, puncaknya sudah mencapai ketinggian 300 m di atas permukaan laut. Apabila dirata-ratakan, laju penambahan tinggi Anak Krakatau adalah 3.75 meter dalam setahun. Hal ini dimungkinkan karena asupan energi dari Selat Sunda yang berlimpah sehingga memungkinkan periode letusan Anak Krakatau yang cukup sering, minimal dalam rentang 1 sampai 6 tahun sekali dengan durasi yang cukup lama. Aktifitas ini menghasilkan material dari dalam bumi atau lava yang menjadi bahan dasar pertumbuhan Anak Krakatau.
Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk memantau deformasi gunungapi adalah InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar). Teknik ini adalah bagian dari metode penginderaan jauh aktif (active remote sensing) dengan memanfaatkan data radar yang sensornya diletakkan pada pesawat ataupun satelit. Sistem satelit yang masih tergolong baru saat ini adalah sistem satelit ALOS (Advanced Land Observing Satellite) yang dikembangkan oleh JAXA (Japan Aerospace and Exploration Agency) dan dilengkapi oleh sensor PALSAR (Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar). Dengan mengolah data PALSAR dari dua waktu pengamatan menggunakan teknik interferometri, perubahan permukaan bumi dapat dideteksi. Prinsip dasar metode ini adalah dengan membandingkan jarak yang terukur antara permukaan bumi dengan sensor oleh gelombang radar pada dua waktu yang berbeda. Perubahan jarak ini diperoleh dari perubahan fase yang terekam akibat adanya perubahan pada permukaan bumi.
Untuk menguji kemampuan data PALSAR dan teknik InSAR dalam mendeteksi perubahan permukaan, dilakukan ujicoba terhadap Anak Krakatau. Lima paket data PALSAR yang diamati pada tanggal 23 Juni 2007, 3 September 2007, 8 Februari 2008, 25 September 2008 dan 10 Februari 2009 diolah untuk mendapatkan interferogram. Kebetulan dalam rentang waktu ini, Anak Krakatau sedang dalam masa aktif yang dimulai pada bulan Oktober 2007 dan terus aktif sampai bulan Mei 2009. Perubahan vertikal dapat dilihat pada gambar berikut.

Deformasi Anak Krakatau

Deformasi Anak Krakatau

Gambar di atas memperlihatkan perubahan permukaan Anak Krakatau. Terlihat adanya sedikit penurunan di sekitar kawah pada periode bulan Juni 2007 – September 2007, kemudian diikuti oleh pengembangan badan gunung pada periode September 2007 – Februari 2008 atau menjelang dan saat letusan terjadi. Selanjutnya adalah penurunan di daerah selatan-barat dari kawah utama akibat letusan. Pusat Vulkanologi Indonesia mencatat terbentuknya kawah baru pada bagian selatan-barat dari kawah utama dalam periode letusan ini.
Mekanisme letusan Anak Krakatau dalam periode ini dapat dimodelkan dengan mengubah strategi pengolahan data yang berdasarkan satu waktu pengamatan, misalnya data bulan September 2007 (sebelum letusan terjadi) dijadikan sebagai acuan. Dari pemodelan perubahan permukaan, diperkirakan terjadi mekanisme patahan pada daerah dangkal yang mengaktifkan aliran magma dari kantong magma bagian atas dari Kompleks Krakatau. Harjono (1989) telah mendeteksi adanya 2 daerah kantong magma, yaitu bagian atas dengan kedalaman 9 km dan bagian bawah dengan kedalaman 22 km yang luas volumenya sangat besar.

Model Perubahan Anak Krakatau

Model Perubahan Anak Krakatau

Gambar di atas memperlihatkan adanya mekanisme patahan menyudut dikombinasikan dengan mekanisme pembukaan akibat tekanan magma (dip-slip open tensile) dalam periode letusan ini.
Mengingat sejarah letusan 126 tahun yang lalu dan letaknya di Selat Sunda yang berdekatan dengan Jakarta, kegiatan pemantauan dan penelitian Kompleks Krakatau sangat penting untuk terus dilakukan. Tidak hanya terhadap gunungnya, tetapi juga aktifitas di Selat Sunda yang terus membuka secara perlahan tapi aktif harus juga diteliti secara lebih mendalam. Terlebih lagi dengan adanya rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra, kondisi geologi dan tektonik daerah ini harus dipahami secara lebih mendalam dan konprehensif.

Ucapan Terimakasih kepada Prof. Hasanuddin Abidin (ITB) dan Yoga Pamitro (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) atas data yang disediakan.

Salam hormat,
Agustan

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.