Intro Toponimi: Beberapa versi tentang nama Krakatau: Krakatoa, Karkata, Rakata. Akar katanya adalah Rakata, bahasa Sansekerta yang berarti kepiting. Pulau Sertung, sebelum letusan 1883 bernama Verlaten Eiland (pulau yang ditinggalkan); Pulau Panjang sebelum letusan 1883 bernama Lang Eiland, yang juga berarti panjang (Verbeek dan Ferzenaar).
Tepat 126 tahun yang lalu, pada hari Senin, tanggal 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meledak dan meningglkan beberapa catatan sejarah dunia. Mulai dari tsunami yang menyapu pantai Jawa bagian utara dan barat, Sumatra bagian selatan, sampai terjadinya perubahan iklim secara global. Semburan debu ke angkasa yang menghalangi sinar matahari bahkan terasa sampai ke benua Australia dan Eropa. Korban yang meninggal tercatat sekitar 36.000 jiwa. Tanda-tanda akan meletusnya Gunung Krakatau ini didahului oleh beberapa gempa kecil di Selat Sunda sekitar tahun 1870an. Letusan pertama Gunung Krakatau tercatat pada tanggal 20 Mei 1883 dan terus berlangsung hingga mencapai puncaknya pada tanggal 27 Agustus 1883. Tercatat empat kali letusan raksasa pada pukul 05.30, 06.44, 10.02 dan 10.52 waktu setempat yang menghancurkan dua pertiga dari badan gunung itu sendiri. Gambar di bawah mengilustrasikan betapa dahsyatnya letusan pada hari itu yang diwakili oleh perubahan Gunung Krakatau sebelum, sesudah dan kondisi saat ini.

Ilustrasi Kompleks Krakatau
Sebelum letusan, Kompleks Krakatau terdiri dari 4 pulau yaitu (nama dituliskan sesuai dengan waktu pencatatan): Verlaten, Lang, Polish Hat dan Krakatau. Saat itu Pulau Krakatau terdiri dari beberapa kawah dan puncak, yang tercatat adalah Perbuwatan, Danan dan Rakata dengan letak yang diilustrasikan pada gambar 1a. Akibat letusan dahsyat 126 tahun yang lalu tersebut, Pulau Krakatau dan Polish Hat yang diilustrasikan dengan garis biru putus-putus pada gambar 1a, hancur dan menyisakan puncak Rakata yang menjadi Pulau Rakata saat ini.
Kompleks Krakatau tidak bisa dipisahkan dari kondisi dan karakter dari Selat Sunda. Aktifitas yang terjadi di Kompleks Krakatau dipengaruhi oleh mekanisme tektonik dari Selat Sunda. Selat Sunda. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa Selat Sunda merupakan tempat yang unik karena antara lain (Harjono, 1989, 1991; Susilohadi, 2009): menjadi daerah transisi antara zona subduksi Sumatra yang miring dengan zona subduksi Jawa yang lurus; terjadi mekanisma pembukaan akibat gerakan tektonik yang menjauh antara Sumatra dan Jawa, dan terjadi fenomena daerah turun (graben). Mekanisme ini yang menjadi sumber tingginya aktifitas kegunungapian di Krakatau Kompleks. Hal ini bisa dilihat setelah letusan raksasa tahun 1883, daerah ini hanya butuh 46 tahun untuk menampung energi di Selat Sunda yang menghasilkan lahirnya gunung api baru pada tanggal 18 Februari 1929 yang kemudian dikenal dengan nama Anak Krakatau (Sutawidjaja, 1997).
Perkembangan Anak Krakatau termasuk cepat, yang usianya sudah 80 tahun saat ini, puncaknya sudah mencapai ketinggian 300 m di atas permukaan laut. Apabila dirata-ratakan, laju penambahan tinggi Anak Krakatau adalah 3.75 meter dalam setahun. Hal ini dimungkinkan karena asupan energi dari Selat Sunda yang berlimpah sehingga memungkinkan periode letusan Anak Krakatau yang cukup sering, minimal dalam rentang 1 sampai 6 tahun sekali dengan durasi yang cukup lama. Aktifitas ini menghasilkan material dari dalam bumi atau lava yang menjadi bahan dasar pertumbuhan Anak Krakatau.
Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk memantau deformasi gunungapi adalah InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar). Teknik ini adalah bagian dari metode penginderaan jauh aktif (active remote sensing) dengan memanfaatkan data radar yang sensornya diletakkan pada pesawat ataupun satelit. Sistem satelit yang masih tergolong baru saat ini adalah sistem satelit ALOS (Advanced Land Observing Satellite) yang dikembangkan oleh JAXA (Japan Aerospace and Exploration Agency) dan dilengkapi oleh sensor PALSAR (Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar). Dengan mengolah data PALSAR dari dua waktu pengamatan menggunakan teknik interferometri, perubahan permukaan bumi dapat dideteksi. Prinsip dasar metode ini adalah dengan membandingkan jarak yang terukur antara permukaan bumi dengan sensor oleh gelombang radar pada dua waktu yang berbeda. Perubahan jarak ini diperoleh dari perubahan fase yang terekam akibat adanya perubahan pada permukaan bumi.
Untuk menguji kemampuan data PALSAR dan teknik InSAR dalam mendeteksi perubahan permukaan, dilakukan ujicoba terhadap Anak Krakatau. Lima paket data PALSAR yang diamati pada tanggal 23 Juni 2007, 3 September 2007, 8 Februari 2008, 25 September 2008 dan 10 Februari 2009 diolah untuk mendapatkan interferogram. Kebetulan dalam rentang waktu ini, Anak Krakatau sedang dalam masa aktif yang dimulai pada bulan Oktober 2007 dan terus aktif sampai bulan Mei 2009. Perubahan vertikal dapat dilihat pada gambar berikut.

Deformasi Anak Krakatau
Gambar di atas memperlihatkan perubahan permukaan Anak Krakatau. Terlihat adanya sedikit penurunan di sekitar kawah pada periode bulan Juni 2007 – September 2007, kemudian diikuti oleh pengembangan badan gunung pada periode September 2007 – Februari 2008 atau menjelang dan saat letusan terjadi. Selanjutnya adalah penurunan di daerah selatan-barat dari kawah utama akibat letusan. Pusat Vulkanologi Indonesia mencatat terbentuknya kawah baru pada bagian selatan-barat dari kawah utama dalam periode letusan ini.
Mekanisme letusan Anak Krakatau dalam periode ini dapat dimodelkan dengan mengubah strategi pengolahan data yang berdasarkan satu waktu pengamatan, misalnya data bulan September 2007 (sebelum letusan terjadi) dijadikan sebagai acuan. Dari pemodelan perubahan permukaan, diperkirakan terjadi mekanisme patahan pada daerah dangkal yang mengaktifkan aliran magma dari kantong magma bagian atas dari Kompleks Krakatau. Harjono (1989) telah mendeteksi adanya 2 daerah kantong magma, yaitu bagian atas dengan kedalaman 9 km dan bagian bawah dengan kedalaman 22 km yang luas volumenya sangat besar.

Model Perubahan Anak Krakatau
Gambar di atas memperlihatkan adanya mekanisme patahan menyudut dikombinasikan dengan mekanisme pembukaan akibat tekanan magma (dip-slip open tensile) dalam periode letusan ini.
Mengingat sejarah letusan 126 tahun yang lalu dan letaknya di Selat Sunda yang berdekatan dengan Jakarta, kegiatan pemantauan dan penelitian Kompleks Krakatau sangat penting untuk terus dilakukan. Tidak hanya terhadap gunungnya, tetapi juga aktifitas di Selat Sunda yang terus membuka secara perlahan tapi aktif harus juga diteliti secara lebih mendalam. Terlebih lagi dengan adanya rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra, kondisi geologi dan tektonik daerah ini harus dipahami secara lebih mendalam dan konprehensif.
Ucapan Terimakasih kepada Prof. Hasanuddin Abidin (ITB) dan Yoga Pamitro (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) atas data yang disediakan.
Salam hormat,
Agustan



