Posted by: agustan | August 27, 2009

Anak Krakatau, Penerus Dinasti Krakatau yang kian Dewasa

Intro Toponimi: Beberapa versi tentang nama Krakatau: Krakatoa, Karkata, Rakata. Akar katanya adalah Rakata, bahasa Sansekerta yang berarti kepiting. Pulau Sertung, sebelum letusan 1883 bernama Verlaten Eiland (pulau yang ditinggalkan); Pulau Panjang sebelum letusan 1883 bernama Lang Eiland, yang juga berarti panjang (Verbeek dan Ferzenaar).

Tepat 126 tahun yang lalu, pada hari Senin, tanggal 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meledak dan meningglkan beberapa catatan sejarah dunia. Mulai dari tsunami yang menyapu pantai Jawa bagian utara dan barat, Sumatra bagian selatan, sampai terjadinya perubahan iklim secara global. Semburan debu ke angkasa yang menghalangi sinar matahari bahkan terasa sampai ke benua Australia dan Eropa. Korban yang meninggal tercatat sekitar 36.000 jiwa. Tanda-tanda akan meletusnya Gunung Krakatau ini didahului oleh beberapa gempa kecil di Selat Sunda sekitar tahun 1870an. Letusan pertama Gunung Krakatau tercatat pada tanggal 20 Mei 1883 dan terus berlangsung hingga mencapai puncaknya pada tanggal 27 Agustus 1883. Tercatat empat kali letusan raksasa pada pukul 05.30, 06.44, 10.02 dan 10.52 waktu setempat yang menghancurkan dua pertiga dari badan gunung itu sendiri. Gambar di bawah mengilustrasikan betapa dahsyatnya letusan pada hari itu yang diwakili oleh perubahan Gunung Krakatau sebelum, sesudah dan kondisi saat ini.

Ilustrasi Kompleks Krakatau

Ilustrasi Kompleks Krakatau

Sebelum letusan, Kompleks Krakatau terdiri dari 4 pulau yaitu (nama dituliskan sesuai dengan waktu pencatatan): Verlaten, Lang, Polish Hat dan Krakatau. Saat itu Pulau Krakatau terdiri dari beberapa kawah dan puncak, yang tercatat adalah Perbuwatan, Danan dan Rakata dengan letak yang diilustrasikan pada gambar 1a. Akibat letusan dahsyat 126 tahun yang lalu tersebut, Pulau Krakatau dan Polish Hat yang diilustrasikan dengan garis biru putus-putus pada gambar 1a, hancur dan menyisakan puncak Rakata yang menjadi Pulau Rakata saat ini.
Kompleks Krakatau tidak bisa dipisahkan dari kondisi dan karakter dari Selat Sunda. Aktifitas yang terjadi di Kompleks Krakatau dipengaruhi oleh mekanisme tektonik dari Selat Sunda. Selat Sunda. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa Selat Sunda merupakan tempat yang unik karena antara lain (Harjono, 1989, 1991; Susilohadi, 2009): menjadi daerah transisi antara zona subduksi Sumatra yang miring dengan zona subduksi Jawa yang lurus; terjadi mekanisma pembukaan akibat gerakan tektonik yang menjauh antara Sumatra dan Jawa, dan terjadi fenomena daerah turun (graben). Mekanisme ini yang menjadi sumber tingginya aktifitas kegunungapian di Krakatau Kompleks. Hal ini bisa dilihat setelah letusan raksasa tahun 1883, daerah ini hanya butuh 46 tahun untuk menampung energi di Selat Sunda yang menghasilkan lahirnya gunung api baru pada tanggal 18 Februari 1929 yang kemudian dikenal dengan nama Anak Krakatau (Sutawidjaja, 1997).
Perkembangan Anak Krakatau termasuk cepat, yang usianya sudah 80 tahun saat ini, puncaknya sudah mencapai ketinggian 300 m di atas permukaan laut. Apabila dirata-ratakan, laju penambahan tinggi Anak Krakatau adalah 3.75 meter dalam setahun. Hal ini dimungkinkan karena asupan energi dari Selat Sunda yang berlimpah sehingga memungkinkan periode letusan Anak Krakatau yang cukup sering, minimal dalam rentang 1 sampai 6 tahun sekali dengan durasi yang cukup lama. Aktifitas ini menghasilkan material dari dalam bumi atau lava yang menjadi bahan dasar pertumbuhan Anak Krakatau.
Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk memantau deformasi gunungapi adalah InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar). Teknik ini adalah bagian dari metode penginderaan jauh aktif (active remote sensing) dengan memanfaatkan data radar yang sensornya diletakkan pada pesawat ataupun satelit. Sistem satelit yang masih tergolong baru saat ini adalah sistem satelit ALOS (Advanced Land Observing Satellite) yang dikembangkan oleh JAXA (Japan Aerospace and Exploration Agency) dan dilengkapi oleh sensor PALSAR (Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar). Dengan mengolah data PALSAR dari dua waktu pengamatan menggunakan teknik interferometri, perubahan permukaan bumi dapat dideteksi. Prinsip dasar metode ini adalah dengan membandingkan jarak yang terukur antara permukaan bumi dengan sensor oleh gelombang radar pada dua waktu yang berbeda. Perubahan jarak ini diperoleh dari perubahan fase yang terekam akibat adanya perubahan pada permukaan bumi.
Untuk menguji kemampuan data PALSAR dan teknik InSAR dalam mendeteksi perubahan permukaan, dilakukan ujicoba terhadap Anak Krakatau. Lima paket data PALSAR yang diamati pada tanggal 23 Juni 2007, 3 September 2007, 8 Februari 2008, 25 September 2008 dan 10 Februari 2009 diolah untuk mendapatkan interferogram. Kebetulan dalam rentang waktu ini, Anak Krakatau sedang dalam masa aktif yang dimulai pada bulan Oktober 2007 dan terus aktif sampai bulan Mei 2009. Perubahan vertikal dapat dilihat pada gambar berikut.

Deformasi Anak Krakatau

Deformasi Anak Krakatau

Gambar di atas memperlihatkan perubahan permukaan Anak Krakatau. Terlihat adanya sedikit penurunan di sekitar kawah pada periode bulan Juni 2007 – September 2007, kemudian diikuti oleh pengembangan badan gunung pada periode September 2007 – Februari 2008 atau menjelang dan saat letusan terjadi. Selanjutnya adalah penurunan di daerah selatan-barat dari kawah utama akibat letusan. Pusat Vulkanologi Indonesia mencatat terbentuknya kawah baru pada bagian selatan-barat dari kawah utama dalam periode letusan ini.
Mekanisme letusan Anak Krakatau dalam periode ini dapat dimodelkan dengan mengubah strategi pengolahan data yang berdasarkan satu waktu pengamatan, misalnya data bulan September 2007 (sebelum letusan terjadi) dijadikan sebagai acuan. Dari pemodelan perubahan permukaan, diperkirakan terjadi mekanisme patahan pada daerah dangkal yang mengaktifkan aliran magma dari kantong magma bagian atas dari Kompleks Krakatau. Harjono (1989) telah mendeteksi adanya 2 daerah kantong magma, yaitu bagian atas dengan kedalaman 9 km dan bagian bawah dengan kedalaman 22 km yang luas volumenya sangat besar.

Model Perubahan Anak Krakatau

Model Perubahan Anak Krakatau

Gambar di atas memperlihatkan adanya mekanisme patahan menyudut dikombinasikan dengan mekanisme pembukaan akibat tekanan magma (dip-slip open tensile) dalam periode letusan ini.
Mengingat sejarah letusan 126 tahun yang lalu dan letaknya di Selat Sunda yang berdekatan dengan Jakarta, kegiatan pemantauan dan penelitian Kompleks Krakatau sangat penting untuk terus dilakukan. Tidak hanya terhadap gunungnya, tetapi juga aktifitas di Selat Sunda yang terus membuka secara perlahan tapi aktif harus juga diteliti secara lebih mendalam. Terlebih lagi dengan adanya rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra, kondisi geologi dan tektonik daerah ini harus dipahami secara lebih mendalam dan konprehensif.

Ucapan Terimakasih kepada Prof. Hasanuddin Abidin (ITB) dan Yoga Pamitro (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) atas data yang disediakan.

Salam hormat,
Agustan

Posted by: agustan | June 17, 2009

Toponimi daerah Jawa Barat (6)

Kali ini lanjutan penamaan unsur pemukiman di daerah Jawa Barat, masih berasal dari buku Van Gent yang diterjemahkan oleh guru Kami, Bapak Klaas J. Villanueva.

Selain berkaitan dengan nama sungai, nama pemukiman di Jawa Barat berasal dari jenis tumbuhan, antara lain yang tercatat adalah:
Dari jenis pohon-pohon liar
- Muncang (sejenis kemiri),
- Caringin (waringin),
- Sinagar dan gebang (jenis pohon palem),
- Angsana dan teureup (berkaret),
- Kiara, kolelet dan hampelas (jenis ficus; ficussoorten),
- Kareumbi dan koeray (dengan kayu lembek),
- Dahu (dengan buah masam),
- Secang (pohon kayu cat),
- Nagasari (akasia) dan lebihkruang dikenal seperti garut (yaitu sejenis akasia, yang sebagai contoh ditemukan juga di ibukota yang bernama sama dari wilayah),
- Medang (nama Sumedang menurut beberapa orang berarti tidak lain daripada pohon medang yang besar),
- Leles, dan lainnya.

Juga ada beberapa dari nama-nama pohon-pohon hutan, misalnya: nangsi, gintung, bunut, karoja, putri (Banyak orang cenderung untuk memberi pada sebutan putri arti seorang anak perempuan raja; kecuali untuk beberapa kasus, semua penamaan dengan putri, yang umumnya menyangkut gunung, terkait dengan ditemukannya pohon putri (cemara) disana).

Posted by: agustan | May 20, 2009

Ibu

Sudah lebih setahun mencoba mengolah data Gunung Ibu dari PALSAR untuk melihat pengaruh aktifitas gunung api terhadap perubahan permukaan. Sebagai informasi, Gunung Ibu terletak di Pulau Halmahera. Tertarik dengan toponimi daerah Maluku, ada satu artikel yang menarik untuk dibaca: Ternate the Residency and Its Sultanate
bisa dibaca di http://www.sil.si.edu/DigitalCollections/Anthropology/Ternate/

sil9-1-011a

Lokasi Gunung Ibu
lokasi_gunung_ibu

Ternyata nama Ibu (Iboo) adalah nama sebuah desa, yang termasuk dalam wilayah Gamkonorah dalam Kesultanan Ternate. Menurut buku ini, “Gamu” dan dibaca “gam” artinya kota atau tempat. Sehingga nama Gunung Ibu dan Gunung Gamkonorah asalnya dari nama pemukiman atau wilayah tempat kedua gunung tersebut berada.
Diceritakan juga bahwa dulu nama Kampung Ibu ini adalah Gam Lamo yang juga dialiri oleh Sungai Ibu.
Dan ternyata, lokasi ini mempunya bahasa lokal sendiri yang menurut SIL International (the Summer Institute of Linguistics) sudah hampir punah, yang pada waktu diteliti tahun 1984, hanya dimengerti oleh 50 orang dari 200 pupulasi saat itu. Mengapa hampir punah?
Mungkin bisa dikaitkan dengan artikel yang ditulis J. Collins “Language death in Maluku; The impact of the VOC” In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 159 (2003).
Apakah ada kaitan antara “Ibu” dengan “mama atau bunda”? saya juga belum jelas sampai sekarang. Yang jelas jangan pernah lupa untuk mendoakan dan memohon doa restu dari ibu kita masing-masing…love you mom and miss you so much :) . Jadi pengen nyanyi

Chorus
Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter.
With me everything is ok.
Mother, how are you today?

Mother, don’t worry, I’m fine.
Promise to see you this summer.
This time there will be no delay.
Mother, how are you today?

Verse
I found the man of my dreams.
Next time you will get to know him.
Many things happened while I was away.
Mother, how are you today?

Hasil interferometri dari Gunungapi Ibu, yang data PALSARnya dari Bapak Prof. Hasanuddin Abidin.
interferogram1

Posted by: agustan | May 4, 2009

Satu Kampung Tiga Nama…

Baru saja membaca artikel ringan di harian digital KOMPAS

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/05/04/14161124/Satu.Kampung.Tiga.Nama…

cukup menarik karena fenomena ini sering ditemui di wilayah Indonesia. Semuanya tergantung kepada yang menyebut dan mengenalkannya ke “pihak luar”, dan di sinilah peran penting pemerintah untuk menetapkan “versi” baku untuk tertib administrasi. Tetapi dalam menetapkan nama bakunya sebaiknya memperhatikan “sejarah” dan asal usul nama lokasi tersebut. Ada salah satu perjanjian tidak tertulis dalam pembakuan nama geografis yaitu berdasarkan yang “tertua” atau “yang paling awal” jika unsur geografis tersebut mempunyai banyak nama. Hal seperti ini banyak dijumpai di Indonesia bagian timur, utamanya nama pulau-pulau kecil atau kampung pemukiman. Sebabnya terkait langsung dengan “keanekaragaman suku dan bahasa daerah” yang “dulu pernah atau sedang mendiami” lokasi tersebut. Nama satu kampung, desa atau pulau yang sama mungkin akan berbeda jika ditanyakan kepada orang Ambon, orang Papua atau orang Bugis yang berdiam di sana. Jika ingin dibakukan sebaiknya mengacu kepada nama dalam bahasa lokal atau berdasarkan kelompok yang paling pertama mendiami lokasi tersebut.

Berikut adalah liputan dari Kompas (copy and paste mode). Apabila dibaca, banyak penulisan nama kampung yang belum sesuai dengan kaidah Toponimi…jika ada waktu luang atau tertarik silahkan dikoreksi hehehe…
(Misalnya penulisan nama Kecamatan Kampung Laut seharusnya Kecamatan Kampunglaut).
Jikalau ada yang sudi meneruskan info ini kepada para pewarta atau penulis berita, alangkah senangnya…:)

Senin, 4 Mei 2009 | 14:16 WIB
Laporan wartawan KOMPAS M Suprihadi

KOMPAS.com – Orang Jawa memang biasa punya nama panggilan atau sebutan. Kadang kala, nama panggilan atau sebutan itu sama sekali berbeda dengan nama aslinya. Ada misalnya Bambang dipanggil Bagong atau Goplo karena bentuk badannya yang gemuk.

Ada yang karena badannya kerempeng pendek dipanggil Gareng. Ada yang karena kepalanya besar menyerupai palu lalu diparabi Ganden. Tapi ada juga teman saya dipanggil Merit bukan karena tubuhnya kurus kerempeng, tapi justru karena namanya Sigit, sehingga secara fonetik mudah diingat menjadi Sigit Merit.

Tak jarang juga yang tidak jelas dari mana asal nama panggilan itu. Misalnya teman saya bernama Joko tapi dipanggil Bantuk, Sriwidadi dipanggil Gadut, dan saya sendiri dipanggil Santjuk.

Nah, berkait dengan nama sebutan itu, rupanya nama kampung pun bisa disebut bermacam-macam, yang satu dan lainnya tak berhubungan. Bahkan banyak penduduknya yang tak tahu menahu kenapa nama itu dipakai.

Kampung Ujung Alang di Desa Motean, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap misalnya, biasa disebut Kampung Pejagan dan Ujung Alang itu sendiri, selain juga Kampung Motean. “Dulu namanya Motean, terus pernah disebut Pejagan, dan sekarang Ujung Alang,” kata Maryoto, penduduk setempat yang ditemui di Dermaga Ujung Alang, Senin (4/5).

Jawaban yang sama disampaikan sejumlah ibu yang sedang menunggu perahu sompreng ke kota Cilacap. “Memang kampung ini punya banyak nama,” kata seorang ibu yang tak mau menyebut namanya. “Ora usah ditulis jenenge bae lah,” katanya.

Posted by: agustan | April 27, 2009

Toponimi daerah Jawa Barat (5)

Lanjutan dari terjemahan tulisan van Gent oleh Pak Klaas J. Villanueva, kali ini tentang unsur “kejuruan” atau profesi dalam nama desa. Salah satu kearifan masa lalu yang sangat menghargai profesi atau keahlian sehingga diabadikan dalam nama desa.

Desa Paneuleum = desa pengecat biru,
Desa Panjunan atau Pariyuk = desa pembuat panci dari tanah,
Desa Paledang = desa pengrajin tembaga
Desa Sayang = desa pengrajin tembaga merah,
Desa Kamal = desa tempat pembuatan garam,
Desa Liyo = desa dimana dibuat bata dan genteng,
Desa Penjaringan = desa nelayan atau penangkap ikan.

Juga kehadiran beberapa orang atau karakter suatu kelompok dapat dicatat dengan nama seperti Desa Kabalen (wilayah orang Bali), Desa Kamandelikan (wilayah Pangeran Mandelika), Desa Panjalu (wilayah pejuang berani).

Beberapa nama terkait dengan pembuatan jalan contohnya Andir (pengawas jalan), Jagal (pekerja wajib; heerendienstplichtge), dan Tagog (tempat jaga/kantor pos).

Terlihat bahwa masyarakat Jawa Barat sejak dulu sangat menghargai suatu keahlian atau profesi, zaman ini namanya spesialisasi…tanpa memandang apakah kerjaan kantoran, lapangan, kasar, halus dan lain sebagainya, yang penting ahli dan bermanfaat…
Selamat berkarya dan sukses terus!~

Older Posts »

Categories