Posted by: agustan | July 27, 2008

Cerita tentang Banten

Banten, mempunyai beberapa sejarah nama yaitu Bantam, Bantham, Banten, Sourousouangh, Soeroesowan (Atlas of Mutual Heritage). Tapi arti Banten itu sendiri belum nemu sampe skarang, kemungkinan besar sangat terkait dengan nama Ci Banten (Sungai Banten).

Tulisan ini saya sarikan dari Bab 5 buku Toponimi Indonesia karya Prof. jacub Rais dkk. Sebenarnya saya ingin menulis ulang semua isi buku tersebut, tapi di lembar paling awal sudah ada peringatan tentang hak cipta euy…jadi saya baca dulu bukunya terus saya ceritakan lagi dengan gaya bahasa saya, semoga berkenan hehehe

Menurut buku ini, nama Banten sudah dikenal pada awal abad ke-16 setelah Tome Pires yang warga kota Lisbon melaporkan ekspedisinya. Tome Pires ini juga banyak menulis cerita tentang kesultanan di Jawa dan Malaka. Menurut Tome Pires, kota Banten itu terletak di tepi sungai dan merupakan kota niaga yang baik. Kota ini dipimpin oleh seorang syahbandar yang bertindak atas nama raja Sunda. Jadi pada awalnya kota ini berada dalam wilayah kerajaan Sunda. Kota Banten yang dimaksud adalah kota yang berada di sekitar Banten Lama sekarang yang mempunyai pusat di Banten Girang (sekitar 3km sebelah selatan Kota Serang sekarang)

Yang unik dari kota ini adalah adanya beberapa lapisan budaya yang bisa dikaji melalui penamaan lokasinya. Menurut penelitian, pada lokasi ini terdapat paling tidak 33 pemukiman yang unik. Pada lapisan awal, ada dominasi bahasa Sunda misalnya permukiman dengan nama Pabean, Pamarican, Pakojan, Panjunan, dan Pacinan yang akar katanya bea, marica, koja, anjun dan cina. Pakojan ini artinya permukiman khusus untuk orang India dan Pacinan untuk orang Cina.

Setelah itu ada lapis budaya kedua setelah Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin pada tahun 1626 merebut Banten Girang dan dengan alasan strategi pertahanan, memindahkan pusat pemerintahan ke tepi laut di Banten (Lama) sekarang dengan istana yang dikenal dengan nama Surasowan. Pada peta Banten Lama banyak ditemukan nama permukiman yang dipengaruhi oleh budaya Cirebon dan Jawa misalnya Kebalen, Kepakihan, dan Kragilan. Bedakan antara awalan ka-an pada bahasa Sunda dan ke-an pada bahasa Jawa.

Seabad kemudian atau abad ke-17, unsur Eropa mulai masuk dan ditandai dengan menara Mesjid Agung Banten yang dirancang oleh Cardeel (arsitek Belanda) dan benteng Speelwijk.

Menurut buku ini, nama Banten Lama berasal dari terjemahan bahasa Belanda ke Melayu. Jika berasal dari bahasa Sunda, seharusnya Banten Heubeul, kalau bahasa Jawa seharusnya  Banten Lawas. Tapi karena pengaruh Belanda yang menyebut sisa-sisa pusat kota Surasowan yang dihancurkan oleh Deandels tahun 1808 itu menjadi Oud Bantam sehingga diterjemahkan ke bahasa Melayu menjadi Banten Lama.

Banyak lagi kisah menarik dari buku ini…semoga saya ada kesempatan tuk menceritakannya kembali.

About these ads

Responses

  1. Mas, terima kasih yah infonya. Berguna sekali buat saya.

    Regards,
    SANTY

  2. thanks, tentang isi dari web Anda…
    karena sudah membantu saya dalam menyelesaikan tugas akhir…
    angger aprinda
    Gunadarma University

  3. Thanks juga, semoga bisa lebih bermanfaat lagi :)

  4. thanks semoga ini bermanfaat bgi orang lain

  5. mksih ya om, bemanfaat skli tulisanya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: