Sebuah daerah di bagian utara timur Pulau Honshu dikenal dengan nama Sanriku (さんりく atau 三陸). Sistem kanji lebih gampang dimengerti dengan konotasi dari “gambar” kanji yang mewakili makna tertentu. Kanji “Sanriku” terdiri dari 2 unsur yaitu “San” yang artinya “tiga” (diwakili gambar “三”) dan Riku yang artinya “tanah atau pantai” (diwakili gambar “陸”), sehingga Sanriku dapat dimengerti sebagai sebuah wilayah yang terdiri dari tiga daerah. Nama ini terkait dengan legenda rakyat tentang dewa yang mampu menaklukkan roh jahat dengan tiga batu karang.
Berdasarkan sejarah, daerah ini mengalami gempa besar dengan tsunami dan korban jiwa yang signifikan tahun 1896 (Mw ~8.1 Tanioka, Y. dan Seno T.; 2001) dan tahun 1933 (Mw ~8.4). Sedang untuk kekuatan ~Mw <8 kejadian dan interval gempanya lebih sering.
Hari ini, 11 Maret 2011, 05.46.23 UTC sebuah gempa kembali terjadi di sekitar lokasi gempa-gempa yang disebutkan di atas dengan kekuatan Mw.8.9. Gempa besar ini juga mengakibatkan tsunami di daerah Sanriku dengan tinggi rata-rata 4 meter. Sebelumnya, 2 hari yang lalu tanggal 9 Maret 2011, juga terjadi gempa “pendahuluan” dengan kekuatan Mw. 7.2. Kemungkinan gempa tanggal 9 Maret ini memicu gempa besar hari ini.
Berdasarkan analisis inversi data broadband seismometer, Dr. G. Hayes (USGS) telah menghitung parameter gempa ini yang dapat dimodelkan untuk menghitung deformasi permukaan dan pemodelan perambatan gelombang tsunami. Hasilnya dapat dilihat pada gambar-gambar berikut.
Dari distribusi slip ini, deformasi permukaan dapat dimodelkan berdasarkan persamaan Okada. Dari pemodelan terlihat terlihat permukaan mengalami kenaikan lebih dari 5 meter di dasar laut, tetapi di beberapa bagian daratan mengalami penurunan atau subsidence lebih dari 1 meter. Hal ini disebabkan karena mekanisme gempa yang terjadi adalah “patahan naik atau thrust fault” seperti yang terlihat dari “beach ball atau focal mechanism” yang kadang mencari ciri gempa di zona tumbukan lempeng atau subduksi.
Mekanisme gempa dengan patahan naik ini sangat berpotensi membangkitkan tsunami. Dari analisis Dr. Hayes juga menyimpulkan bahwa sudut gempa (dip angle) sekitar 9 derajat yang mencerminkan penunjaman yang landai sehingga secara geometri akan menimbulkan dampak yang cukup jauh.
Karena lokasi pusat gempa yang menyebabkan tsunami ini berada di laut terbuka, tentu saja hamburan gelombang bisa bergerak ke segala arah, tetapi sangat dominan ke arah “tubrukan” yaitu azimuth 195 derajat (arah selatan-barat) yang juga ditentukan dari inversi data broadband seismometer. Itulah sebabnya gelombang tsunami dominan menjalar ke selatan, salah satunya menuju kawasan utara-timur Indonesia.




[...] http://agustan.wordpress.com/2011/03/12/tiga-wilayah-sanriku/ [...]
By: Sendai Earthquake 2011: Stories and Photos Collection « Geodynamics Weblog on March 17, 2011
at 3:12 pm