Posted by: agustan | May 28, 2008

Migrasi, Toponimi dan Peradaban

Salah satu komen dari idola aww geulis Simpang Dago, Aa Nurdin(g)…Menurut beliau, toponimi terkait dengan peradaban dan migrasi…tentu sangat benar sekali hehehe (gaya bahasa hiperbola atau hiperbolik?). Bisa kita lihat nama salah satu desa di pedalaman Sulawesi, daerah Polewali Mamasa, Wanamulyo. Nama desa yang asli Jawa, karena daerah tersebut merupakan daerah transmigrasi waktu era Pak Harto (Almarhum). Wana = hutan, Mulyo = Mulia? Mungkin dengan harapan para transmigran waktu itu dengan membuka hutan, hidup menjadi lebih mulia. Mereka berpindah dengan membawa ‘budaya Jawa’ dan saat ini proses asimilasi dan akulturasi budaya dimulai. Kemudian daerah Pringsewu di Lampung. Pring = bambu, Sewu = seribu, mungkin dulunya lokasi ini adalah hutan bambu yang dibuka oleh Suku Jawa untuk memulai hidup baru.

Suku Bugis dan Makassar yang juga termasuk kategori ‘tukang pindah’ (tapi tidak pernah ikut program transmigrasi) juga mempunyai beberapa perilaku khusus untuk penamaan lokasi tempat baru mereka. Umumnya mereka jarang membawa nama kampung mereka di tempat baru, tapi penduduk lokal-lah yang selalu menyebut kediaman mereka sebagai ‘Kampung Bugis’ atau ‘Kampung Makassar’. Misalnya nama Kampung Bugis di daerah Tulangbawang-Lampung, nama tersebut berasal dari dewan adat setempat dan merupakan penganugrahan. Dalam hal ini bisa ditebak kalau orang Bugis sifatnya lebih mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat. Mereka justru selalu berusaha menggunakan nama lokal dengan lidah mereka (proses transliterasi?). Misalnya daerah Kualaenok di Jambi, oleh masyarakat Bugis disebut ‘Kulenok’.

Salah satu diskusi saya dengan Prof. Jacub Rais, pakar Toponimi adalah cerita tentang Patih Gajah Mada dengan salah satu pemukiman di Sumatra. Saya copy-kan email beliau:

From: Jacub Rais
Sent: Wednesday, January 24, 2007 8:40 PM
-del-
Dari nama
ini kita dapat menggali sejarah suatu tempat. Kalau anda tahu di di Danau
Ranau di batas Sumatera Selatan dan Bengkulu ada suatu kota kecil yang
bernama “Kotajawa”. Coba cari mengapa tempat ini dinamakan “Kotajawa” Saya
persilahkan anda bongkar buku sejarah Kerajaan Majapahit. Saya akan beri
anda hadiah jika anda dapat mencari tahu mengapa kota kecil bernama
“Kotajawa”
Salam
Jacub Rais
Pakar Toponimi UNGEGN
—————————–

Dengan berbekal pertanyaan itu saya menjadi membongkar literatur (tapi kebanyakan fiksi hehehe, utamanya tulisan Mas Langit Kresna Hariadi – Gajah Mada) dan saya mencoba menguraikan:

…berdasarkan buku M. Yamin dan Nugroho Notosusanto), dan dari situ terungkap hubungan antara Singasari (zaman Prabu Kertanegara) dengan kerajaan di Sumatera melalui ekspedisi Pamalayu (1275M)
yang menurut ahli sejarah ke daerah sekitar Palembang dan masuk ke arah barat sampai ke Pagaruyung (dan kemungkinan besar sampai ke daerah sekitar
Danau Ranau). Selain itu, faktor Adityawarman sebagai raja di Pagaruyung
yang merupakan saudara sepupu sekali dari Prabu Jayanegara, raja Majapahit
(Jayanegara adalah paman Hayam Wuruk) berperan penting dalam hubungan antara
Jawa dan Sumatera. Dikisahkan bahwa armada laut Majapahit dibangun
berdasarkan pengetahuan teknik perkapalan dari Dharmasraya (Kerajaan Melayu
Jambi yang menurut Wikipedia terletak di sekitar Kabupaten Sawahlunto,
Sumatera Barat). Begitu banyak orang Majapahit ditugaskan belajar (beasiswa
dari MAID kali ya? Majapahit Aid hehehe) untuk membuat kapal dan membangun
armada laut ke Dharmasraya ini. Seperti fenomena sekarang, di mana mungkin
ada beberapa pelajar yang mungkin tidak kembali dan justru menetap di tanah
Sumatera dan membangun komunitas sendiri, apalagi setelah Adityawarman
mendirikan kerajaan Pagaruyung di Batusangkar. Mungkin dari komunitas
pelajar yang tidak pulang ini yang kemudian ikut dan membuka hunian di
sekitar Danau Ranau dan oleh penduduk asli lokasi tersebut diberi nama
“Kotajawa”. Kejadian ini diperkirakan setelah tahun 1336, setelah Sumpah
Palapa dikumandangkan….

Tanggapan dari Bapak Prof. Jacub Rais:

Jakarta 25 Januari 2007

Sdr Agustan,

Saya mulai dari sejarah Kotajawa di dekat danau Ranau. Dalam suatu buku
berbahasa Belanda mengenai objek-objek turisme di Sumatera, buku tsb menulis
tentang sejarah Kotajawa. Dikatakannya di abad ke-14 (informasi anda tahun
1336, mungkin benar) berdiam di tempat tsb salah seorang pangeran dari
kerajaan Hindu dari pulau Jawa. Tidak menyebut nama kerajaan itu. Buku tsb
seterusnya menceriterakan bahwa sang pangeran ini nikah dengan wanita
setempat dan melahiran 5 anak laki-laki (patrilineal) yang merupakan 5
suku-suku bangsa yang menyebar di Sumatera Selatan dan Lampung. Ceritera
stop sampai di sini. Saya mencoba mencari informasi siapa di pangeran Jawa
tadi. Pada suatu kegiatan BAKOSURTANAL dengan Fak Geografi UGM ada kegiatan
geo-arkeologi dengan remote sensing. Ketika diadakan sensing di daerah
Jambi, disekitar desa Muarajambi ditemukan sejumlah candi-candi. Saya
sendiri hadir melihat penemuan ini bersama seorang ahli arkologi dari
Jakarta. Candi ini banyak dan bentuknya kecil-kecil dan dikatakan sebagai
padepokan untuk orang belajar tentang hinduisme. Dalam sejarah yang ditulis
oleh Pendeta Hindu I Tsing, orang-orang dari daratan Cina yang hendak
belajar hinduisme di India harus berlayar ke selatan mengelilingi pulau
Bangka dan ditemukan suatu tanjung yang namanya San Fo Tsing (sekarang ini
Palembang) di mana mereka belajar bahasa Sanskerta, kemudian mereka berlayar
ke utara ketemu teluk Wen, di mana ada muara Batang Hari dan disitu ada desa
di Muara Batang Hari yang kini dinamakan Muara Jambi, yang betul-betul di
muara sangai. Sekarang sebagai desa dinamakan Muarajambi berada kira-kira
200 km dari laut. Di desa Muarajambi inilah ditemukan candi-cadi Hindu dari
abad ke-8 tersebut. Kemudian dalam salah satu peta dari buku “Forgotten
Kingdoms in Sumatera” oleh F.M.Schnitger ada suatu peta yang menggambarkan
bahwa dekat Muarajambi ada sungai yang bernama Sungai Melayu sebagai anak
sungai Batang Hari. Saya ambil kesimpulan mungkin daerah ini adalah situs
kerajaan Melayu Budha. Saya kemudian berbicara dengan Gubernur Jambi pada
waktu itu Drs H. Abdurrahman Sayoeti tentang letak kerajaan Melayu Budha
yang mereka sebut sbg kerajaan Melayu Kuno. Gubernur sangat entusias dan
meminta saya mengorganisir suatu seminar sejarah Melayu Budha. Jadilah saya
sebagai Ketua Steering Committee Sejarah Melayu Kuno (Budha) tgl. 7 – 8
Desember 1992. Saya kontak para pakar Melayu seduina dan berhasil
mendatangkan pakar-pakar seperti Dr. EE McKinnon dari USA; Prof. Dr. JG de
Casparis dari negeri Belanda dan para pakar Indon dan Malaysia. Ceritera
singkat kerajaan Melayu Budha ini kemudian diserang oleh Majapahit dan 2
putri kerajaan Melayu dibawa ke Jawa. Salah satu putri dinikah oleh salah
seorang pangeran Majapahit dan melahirkan seorang putera. Ketika Gajah Mada
menjadi Patih Majapahit dan Kerajaan Melayu Budha menjadi daerah jajahan
Majapahit, maka patih Gajah Maka mengirin si anak laki-laki yang ibunya
budha dan bapanya Hindu menjadi vasal (semacam Gubernur) di kerajaan Melayu
Budha. Si anak laki-laki tsb tidak lain adalah Adityawarman. Ia kemudian
membelot dan tidak mengakui sebagai vasal Majapahit dan menyatakan dirinya
sebagai Bhaiwara (semacam god) yang prasastinya ditemukan dekat Sungai
Langsat, anak Batang Hari. Dalam buku tsb disebut patih Gaja Mada sangat
marah dan mengirim balatentera untuk menyetrap/menghukun Adityawarman.
Adityawarman mnudur ke arah barat dan membuat pertahanan thd serbuan
Majapahit. Adityawarman kemudian hari menjadi cikal bakal kerajaan Islam
Pagaruyung. Dalam sejarah balatentera Majapahit ini tidak pernah bertemu
dengan Adityawarman karena kesasar masuk ke sungai Musi dan bukan Batang
Hari. Ada jejak pasukan ini yang berbentuk toponimi di daerah Sulsel yaitu
Prabumulih, Prabumenang dsb. yang akhirnya pada abad ke-14 balatentara ini
settle di dekat danau Ranau dan jadilah tempat tsb dinamakan Kota Jawa
(sekarang Kotajawa). Episode berikutnya adalah disekitar tahun 1985-1990
ketika Gubernur Lampung, Bp Pudjo, membangun jalan lintas barat dari Krui ke
utara sampai batas Bengkulu. Ketika jalan sampai ke suatu desa 30 km di
utara Krui, desa Punggung Tapak, ditemukan 2 kelompok masyarakat yang
mengklaim bahwa di desa tsb ada kuburan Patih Gaja Mada di suatu bukit (kita
tahu bahwa Patih Gajah Mada hilang dalam sejarah setelah perang Bubat di
Daerah Jawa Barat.). Saya diundang oleh Gubernur bersama tim dari Dewan
Riset Nasional. Kedua kelompok masyarakat di desa itu memperlihaatkan
silsilah bahwa mereka adakan keturunan ke 17 dari patih Gajah Mada dan ada 2
warisan berupa keris hindu dan suatu bokor tembaga dengan zodiac di tepinya.
Ketika kami usulkan agar kuburan boleh digali dan jika betul menemukan jasad
Gajah Mada tentunya ini menjadi monumen nasional. Tetapi sangat sayang bahwa
tanah di bukit itu asam sehingga tulang belulang musnah semua. Begitu juga
ketika kami geolistrik dan tidak menemukan tanda tanda ada sesuatu dalam
kuburan tsb, Akhirnya tidak dpt dibuktikan bahwa kuburan itu pasti kuburan
Patih Gajah Mada. Menurut hemat kami mungkin salah satu anak pangeran yang
berdiam di Kota Jawa. Mereka selalu mengatakan bahwa mereka dari pasukan
Patih Gajah Mada dan belum tentu Patih Gajah Mada sendiri yang memimpin
balatentera tersebut. Nampaknya ada hubungan antara Adityawarman (Muarajambi)
dengan pasukan Gajahmada di Kotajawa dan kuburan di utara Krui yang berasal
dari sejarah yang sama. Kita masih mencari di mana kuburan patih Gajah Mada
yang benar. Mungkin info ini perlu kita cari melalui toponim, siapa tahu?

Ceritera agak panjang, ya

Salam.
Jacub Rais

Bosan bacanya? mudah-mudahan tidak…saya akan sambung nanti beberapa saat lagi…ada break, ada kitkat…hehehe (ini nggak ada hubungannya dengan promosi lhooo, kalo merasa terganggu, baca aja sebagai, ada break ada k**k*t hehehe)

 

 

 

 


Responses

  1. Kampung Bugis juga ada di Singapore….

  2. Betul Kang Nurdin, bahkan di Semenanjung Malaysia, Brunei, Sabah dan Thailand nama ini ada. Seperti yang saya tulis sebelumnya, nama tersebut pasti pemberian penduduk lokal. Sangat jarang ditemukan nama lokasi pemukiman yang sama dengan daerah asal mereka di Sulawesi Selatan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: