Posted by: agustan | May 28, 2008

Migrasi, Toponimi, Peradaban (2)

Masih tentang peradaban akibat komen dari Aa Nurdin(g) idola aww geulis Simpang Dago (u’uuy) 

Salah satu contoh yang paling menarik tentang toponimi dan arkeologi atau sejarah adalah hikayat Alexander the Great. Banyak nama tempat yang diberi nama sesuai dengan peristiwa yang terkait dengan beliau, misalnya nama kota Alexandria di Mesir dan kota Bucephala di Pakistan (lokasi di mana kuda kesayangan beliau yang bernama Bucephalus, mati karena kelelahan akibat perjalanan yang amat panjang).

Sepenggal kisah di tahun 2004

Tahun 2004 yang lalu, kami melakukan semacam studi arkeologi kecil-kecilan (sebenarnya tidak kecil juga, karena sudah menggunakan Citra Quickbird, Georadar, Geolistrik dan Geomagnet) di daerah Rimbacandi, Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan. Hal ini berdasarkan dari nama desa “Rimbacandi” di dekat Gunung Dempo, masyarakat di sana percaya bahwa ada candi yang
tertimbun di lokasi tersebut. Sebelum berangkat Kami banyak berdiskusi dengan Prof. Mundardjito (arkeolog UI) dan Pak Siswanto (Kepala Balar Palembang/Sumbagsel) yang berdasarkan literatur dan pandangan beliau tidak mungkin ada candi yang terpendam seperti kasus Borobudur. Jadi kadang nama lokasi atau daerah pemukiman berdasarkan dari suatu hikayat saja atau dari budaya lisan yang berasal turun temurun. Untuk lebih memastikan, sumber tertulis atau prasasti atau dalam bentuk apapun merupakan dasar yang paling bagus dalam kegiatan arkeologi dan toponimi. Yang terdapat di daerah Pagaralam dan Lahat adalah peninggalan ‘kebudayaan batu besar, megalithikum’ yang waktunya sangat jauh sebelum zaman kebudayaan candi. Saya cukup beruntung karena mendapat kesempatan survai ke daerah ini dan melihat pola-pola susunan batu besar yang menurut saya sangat misterius, sama misteriusnya dengan Timuli yang ada di Sakai dekat Osaka-Jepang.

Kaitannya dengan nama desa ‘Rimbacandi’, setelah melakukan survai, hasil analisis kami, bahwa nama desa tersebut berasal dari imajinasi masyarakat sewaktu melintasi daerah tersebut untuk berburu atau mencari hasil hutan. Di lokasi tersebut banyak ditemukan ‘columnar join’ jenis batuan intrusi magma yang bentuknya sangat teratur seperti pilar. Yang mungkin oleh masyarakat awam (akibat ketidakpahaman geologi) diinterpretasi sebagai pilar istana yang rubuh dan menyebarkan informasi tentang istana dan candi, di tambah bentuk geomorfologi sekitar yang mirip dengan stupa di Borobudur. Ditambah lagi, daerah tersebut juga diperuntukkan untuk transmigran asal Jawa tahun 1970-an (lagi-lagi era Pak Harto almarhum) yang sudah terkontaminasi dengan budaya candi. Untuk hal seperti ini batas antara kepercayaan mistis dengan rasional menjadi sangat tipis…itulah perlunya studi literatur hehehe

—demikian sekilas perjalanan ekspedisi PTISDA-BPPT yang beranggotakan Agustan, Djoko Nugroho pakar geologi, Lena Sumargana pakar geofisika, Suryanto pakar geografi, Marina pakar remote sensing, Swasetyo Yulianto pakar IT dan dibantu oleh Prof. Mundardjito pakar arkeologi UI dan Pak Siswanto Kepala Balar Sumbagsel— 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: