Posted by: agustan | June 10, 2008

Banca Billiton

Banca = Bangka, Billiton = Belitung.

Nama Banca Billiton pertama kali ditemukan dalam tulisan James Horsburgh (Directions for Sailing to and from the East Indies […], 2 vols (London, 1809-1811), vol. ii, pp. 119 and 121) yang menjelaskan arah perjalanan dari peta navigasi yang dibuat oleh armada Spanyol tahun 1724 yang melintasi ‘Gaspar Strait’. Tetapi ada juga versi yang menyebutkan “…Banca menurut datanya berasal dari peta Portugis pada pertengahan abad ke 17. Mengenai penamaan baru ini juga diikuti pemeta berkebangsaan Inggris, yang bernama Herman Moll dan terkenal dengan A Map of East Indies nya, dicetak untuk keperluan East India Company Tahun 1678 -1732. Sementara pekerjaan yang lebih rinci lagi dilakukan surveyor berkebangsaan Belanda untuk kepentingan VOC bernama Franccois Valentyn yang terkenal dengan Eyland Sumatera yang diterbitkan di Amsterdam pada tahun 1724”.

Terlepas dari nama versi Barat tersebut, hikayat daerah setempat juga bisa menambah wawasan. Beberapa versi asal muasal nama pulau Bangka dihimpun oleh Ir. Sutedjo Suyitno yang dulunya sebagai seorang karyawan dan pejabat pada bagian Eksplorasi dan Geologi (EG) di Perusahaan Tambang Timah Bangka, yang saat ini beliau lebih dikenal sebagai tokoh penulis sejarah Bangka, disamping itu beliau juga adalah salah seorang yang ikut ambil bagian dalam memperjuangkan berdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kemudian diceritakan ulang oleh Bangtjik Kamaluddin.

Menurutnya, pulau ini pada abad ke 16 dinamakan Chinabara, Chinapata atau China Batto sebelum tiba-tiba mendapat nama baru dengan sebutan Banca atau Banka pada abad ke 17. Sampai saat ini tidak ada yang dapat menduga kenapa nama tersebut berubah. Pada awal abad 19 ada seorang guru yang mengajar di Inlandsche Scool Mentok bernama H. Idris yang pernah menulis legenda tentang penamaan Bangka dalam bahasa Melayu kuno dan tulisan itu kemudian diterjemahkan oleh EC.Ade Clercg, dalam bukunya Bijdrage Tot de Geschiedenis Van Het Eiland Banka. Penuturan dari legenda itu hingga sekarang masih hidup di masyarakat pulau ini, yang merupakan sumbangan bagi kepentingan sejarah Bangka. Ada legenda versi Panji, versi Mentok, versi Balar dan versi Paku.

Legenda versi Panji: “…Kepercayaan penduduk desa Panji di Belinyu dan orang Sekak menuturkan, ada seorang anak raja Bugis bernama Seri Gading diusir oleh orang tuanya bernama Raja Tumpu Awang, karena berbuat serong. Diisyaratkan padanya baru diperbolehkan kembali bila sudah mendapatkan seorang isteri yang baik. Alkisah menceritakan maka berlayarlah Seri Gading dengan kapal besar yang dilengkapi awak kapal bersenjata lengkap, mereka menuju ke Jawa dan kemudian ke wilayah Melayu (Johor). Selama menetap di Johor, Seri Gading mendapatkan jodoh dan mempersunting seorang putri keturunan Cina, kemudian ternyata menjadi seorang isteri yang baik. Karena sudah memenuhi persyaratan yang dikehendaki orang tuanya bertolaklah Seri Gading kembali ke negeri asalnya. Malang tak dapat dicegah dalam pelayaran pulang kapalnya dihamuk badai dan terdampar di sebuah pulau yang bergunung tinggi. Singkat cerita Seri Gading bersama sisa-sisa awak kapalnya menemukan sebuah pondok, dibawah serumpun bambu tak jauh dari halaman pondok itu diketemukan dua sosok mayat atau bangkai laki-laki dan perempuan. Pulau yang asing baginya itu kemudian dinamakannya Bangkai, lama-kelamaan berubah menjadi Bangka.”

Ada penuturan lain dari versi ini, bahwa pulau asing tersebut dinamakan Bangka, berasal dari nama jenis kayu yang dipergunakan untuk membuat kapal tersebut, jenis kayu Bangka yang kemudian menjelma menjadi Pulau Bangka.

Legenda versi Mentok menceritakan: “…Zaman dahulu kala ada sebuah kapal besar dari Negeri Johor yang ditumpangi beberapa penumpang laki-laki dan perempuan. Nakhoda kapal besar itu bernama Ragam atau Ranggam. Kapal itu mengalami amukan badai dan akhirnya kandas. Badan kapal yang kandas ini kemudian menjelma menjadi Pulau Bangka, sedangkan tiang-tiang kapal yang tinggi berubah menjadi gunungnya. Lebih lanjut diceritakan juga ada sebuah perahu penyelamatnya hanyut ke Timur, kemudian kandas berubah dan menjelma menjadi Pulau Belitung.”

Legenda versi Balar, wilayah Sungaiselan (sekarang ibukota kecamatan di Kabupaten Bangka Tengah) menuturkan , pulau ini berasal dari sebuah kayu besar dari jenis kayu Bangka yang hanyut dari Bugis.

Legenda versi Paku, yang dituturkan penduduk Paku daerah Payung (sekarang ibukota kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan), nama Bangka berasal dari kata Bangkai yakni bangkai dari seorang berbadan besar mirip raksasa yang terdampar di pulau ini.

Selain hikayat, para ahli berpendapat nama Bangka berasal dari bahasa Sansekerta, Vanka yang berarti Timah secara keseluruhan baik itu Timah Hitam maupun Timah Putih. Dari sisi lain hal ini juga memperkuat dugaan kalau sebenarnya timah di Pulau Bangka telah diketemukan sejak masa lampau, ketika wilayah ini masih dibawah pengaruh Hindu atau di awal pemerintahan kerajaan Sriwijaya.

Jika disimpulkan, ada 2 versi yaitu Bangka yang terkait dengan Bugis dan yang terkait dengan timah. Sewaktu berkunjung ke Bangka tahun 2003 dan 2004, kedua ‘elemen’ ini memang menjadi banyak ditemukan. Tetapi yang mengganjal adalah nama pangeran Bugis yang bernama ‘Seri Gading’ Siapakah dia? Apakah Sawerigading? Hikayat Sawerigading di tanah Bugis memang sangat populer tapi ceritanya beliau kembali ke tanah Bugis dengan selamat…memang dikisahkan kalau beliau sukses mempersunting putri Cina (dikisahkan dalam La Galigo).

Berlibur ke Bangka sambil mempelajari sejarah Indonesia sangat mengasyikkan, keindahan di sekitar pantai Parai sambil makan pempek dan ikan tenggiri kemudian berkunjung ke Museum Timah dan tempat Bung Karno diasingkan.

Semoga di waktu yang akan datang ada rezeki lagi, kemudian bisa ajak Fikri, Alnair dan MD tuk berenang lagi di Parai…


Responses

  1. mau donk ke Bangka lagi!

  2. Baru2 ini saya sempat lihat foto2 teman yang baru dari Bangka.. wah cantik nian… dengan sedikti sentuhan jangan bisa menyaingi Bali suatu saat.

    Salam

  3. Maksudnya jangan-jangan bisa mengalahkan Bali suatu saat.

    Maaf salah ketik🙂

  4. Betul sekali, Bangka itu sangat unik, indah dan nikmat. Banyak pelajaran sosial yang bisa kita petik dari sana. Kalau mau liburan ke Bangka, selain ke Parai, bisa juga melintasi Teluk Klabat, butuh waktu seharian dengan perahu tempel…

  5. you wrote:

    … ada seorang anak raja Bugis bernama Seri Gading diusir oleh orang tuanya bernama Raja Tumpu Awang, karena berbuat serong…

    Tank, ini bukan kisah pribadi kan?
    Huweehehehehe…

  6. Kalau ke Pangkalpinang-Bangka jangan lupa mampir Museum Timah Indonesia.
    Per tgl 2 Agustus 2010 telah direnovasi….dan terus disempurnakan

    • Betul sekali Pak, Museumnya sangat bagus, terutama koleksi peralatan survey dari zaman dahulu, thanks to Aidil Yusar juga ke Pak Sutrisno🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: