Posted by: agustan | November 4, 2008

Arah dan sifat dalam bahasa lokal

Banyak lokasi atau tempat di tanah air ini yang menggunakan ‘arah’ sebagai salah satu unsur pelengkap atau keterangan dalam namanya (nama spesifik). Contoh yang paling jelas adalah Jawa Timur, adalah salah satu provinsi yang terletak di Pulau jawa bagian timur.

Salah satu kaidah dalam penulisan nama geografis adalah “Nama spesifik yang memakai nama sifat, dan atau arah di depan atau dibelakangnya, maka nama geografisnya ditulis terpisah”.

Kaidah ini menarik, karena akan mengajak kita memperhatikan kekayaan bangsa kita dalam istilah atau bahasa lokal. Mau tidak mau kita akan mengerti berbagai istilah ‘arah’ atau ‘sifat’ dalam berbagai bahasa daerah.

Ujung Kulon, Kulon Progo adalah salah satu contoh yang menggunakan “kulon” yang artinya barat. Istilah-istilah yang berasal dari Jawa biasanya sudah populer (kulon atau kilen, wetan, lor atau kaler, kidul), tetapi pernahkan terpikirkan istilah arah tersebut dalam bahasa daerah, yang menurut Summer Institute of Linguistic (www.sil.org) jumlahnya sekitar 742 bahasa tetapi 3 di antaranya telah punah.

Hal ini menjadi penting, terkait dengan “pemekaran” daerah yang biasanya menggunakan bahasa Indonesia sebagai pembeda nama spesifiknya, antara daerah induk dengan daerah pemekaran. Contohnya di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan terdapat nama kecamatan: Tanete Riattang Barat dan Tanete Riattang Timur, “riattang” artinya di selatan; jadi namanya sebenarnya bernama Tanete Selatan Timur dan Tanete Selatan Barat. Apakah sebaiknya istilah ‘arah’ dalam bahasa lokal tetap digunakan jika nama awalnya sudah menggunakan bahasa lokal? Tanete Riattang Riaja dan Tanete Riattang Rilau? artinya sih sama cuma pemilihan namanya yang membedakan…

Belum lagi istilah hilir, ilir, hulu, ulu, tengah, tonga, tengga dllsb…masih sangat banyak memang yang harus dipelajari…Atau ada yang tertarik atau bisa membuat list nama arah dan sifat dalam beberapa bahasa daerah? Sekali lagi saya bangga menjadi anak Indonesia yang sangat beragam…tetapi yang terpenting adalah kemauan dan kemampuan tuk saling memahami dan kemudian saling menghormati dan akhirnya saling menyayangi hehehe…


Responses

  1. dulu ketika saya meneliti dilapangan, ada tempat yang nama belakangnya menggunakan arah mata angin (wetan, kidul, kaler, kulon), saya sampel aja. tapi kalo nama tempat yang menggunakan arus sungai seperti hilir, hulu, girang, saya tidak sampel dengan alasan arah mata angin dan arus sungai sangatlah berbeda, karena baiasanya girang, atau pun hulu biasanya di masyarakat sunda memiliki dan mengandung arti tersendiri hal ini berkaitan dengan mitos masarakat bahwa yang namanya hulu cai (mata air) itu memiliki cerita tersendiri. seperti di sukabumi ada tempat Sudajayahilir dan Sudajayagirang, secara administrasi memang berjauhan dan lahirnya tempat tersebut karena terlewati oleh aliran sungai Ci Suda (air hilang). tapi keduanya memiliki cerita lain/cerita rakyat sebagai pendukung terbentuknya nama tersebut.
    terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: