Posted by: agustan | November 7, 2008

Rumus Matematika dalam Toponimi

Beberapa nama daerah di Sumatera Barat sering dijumpai penggunaan nama bilangan, misalnya Kecamatan V Koto Timur. Menurut kaidah Toponimi, penggunaan nama bilangan sebaiknya ditulis dengan huruf atau kata bilangannya. Selain itu, dalam kaidah Toponimi juga menyarankan untuk menghindari penggunaan ‘rumus matematika’ dalam penulisan nama geografis. Mengapa? Jawabnya agar tidak membingungkan. Di Kabupaten Padang Pariaman, terdapat kecamatan yang dalam beberapa sumber dituliskan: Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam (http://www.sumbarprov.go.id/home/detail.asp?iData=255&iCat=463&iChannel=28&nChannel=1.%20Profile%20Daerah). Nah ini tentu saja membingungkan cara menyebutkannya untuk orang yang berasal bukan dari Sumatera Barat. Mau disebut bagaimana? ” Kecamatan Dua Eks Sebelas Kayu Tanam” atau “Kecamatan Duo Kali Sebelas Kayu Tanam” atau kemungkinan lain dalam bahasa lokal (bahasa Minang)?

Untuk menghindari hal ini sebaiknya ditulis dengan nama atau kata bilangan, bukan diwakili dalam angka…Ternyata ini satu-satunya di dunia ada penulisan nama geografis yang menggunakan rumus matematika hehehe…

Berikut ini adalah peta kecamatan yang terdapat di Kabupaten Padang Pariaman lengkap dengan usulan koreksi penulisan dan penyebutan namanya.

pariaman

Kecamatan:

A = IV Koto Aur Malintang -> Ampek Koto Aur Malintang

B = Batang Gasan -> Batanggasan

C = Sungai Geringging -> Sungaigeringging

D = Sungai Limau -> Sungailimau

E = V Koto Kampung Dalam -> Lima Koto Kampung Dalam

F = V Koto Timur -> Lima Koto Timur

G = Patamuan

H = Padang Sago -> Padangsago

I = VII Koto Sungai Sarik -> Tujuh Koto Sungaisarik (Bahasa Minangnya ‘Tujuh’ apa ya?)

J = Ulakan Tapakis (ini ragu-ragu jenis katanya…artinya apa ya?)

K = 2 X 11 Kayu Tanam -> Duo Kali Sabaleh Kayu Tanam

L = 2 X 11 VI Lingkung -> Duo Kali Sabaleh Anam Lingkung

M = VI Lingkung -> Anam Lingkung

N = Nan Sabaris

O = Sintuak Toboh Gadang

P = Lubuk Aluang -> Lubukaluang

Q = Batang Anai -> Batanganai

Atau ada pendapat lain? silahkan…


Responses

  1. aku juga suka bingung dengan penamaan daerah. terutama daerah sumatera barat, dimana tempat aku berasal.
    di sumatera barat, sering nama tempat di indonesiakan. padahal warganya sehari2 menyebutnya dengan bahasa daerah.
    misalnya:
    A = IV Koto Aur Malintang -> Ampek Koto Aur Malintang –> ini biasanya disebut: Ampek Koto Aua Malintang.

    Kata “Aur” itu merupakan kata daerah “aua” yang di indonesiakan. padahal entah apa artinya dalam bahasa indonesia.

    Masih banyak lagi:
    Tabiang –> tabing
    Lubuak –> lubuk
    dll

    Ataukah memang dalam toponimi, memang ada etika meng-indonesiakan ya, supaya lebih mudah diucapkan misalnya??
    rasa2nya kalo di jawa barat, pede2 aja tuh make nama sunda untuk nama daerahnya.
    walopun mulut pendatang jadi belipat untuk mengucapkannya, hehe.

    oh ya,
    tujuh, bahasa minangnya tujuah.

    sekian.

  2. Seharusnya sih ditulis sesuai dengan pengucapan (prononciation) setempat…jangan hanya daerah Sunda donk yang mau ditulis Cicaheum, Ciembuleuit dllsb hehehe. Ayo kita lestarikan bahasa lokal untuk meningkatkan rasa saling pengertian satu sama lain hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: