Posted by: agustan | January 12, 2009

Toponimi daerah Jawa Barat (3)

Lanjutan dari terjemahan tulisan van Gent oleh Pak Klaas J. Villanueva…kali ini tentang unsur sungai dan danau.

Sungai-sungai umumnya disebut dengan kata Ci, singkatan dari cai = air.  Sungai pegunungan juga dinamakan wahangan atau walungan. Bila kata asalnya telah terkait dengan istilah kali, penamaan dapat berganda, contoh Ci Kalimiring, tetapi ad juga yang arti kali-nya sudah tiada, contoh Ci Kalaga = Ci Kali Age = sungai aliran cepat.

Kadang sungai-sungai memakai nama dari gunung, darimana ia berasal seperti Ci Datar dari G. Datar (gunung yang berbentuk datar), Ci Sanggar dari G. Sanggar (gunung berkorban), Ci Gunungagung dari G. Agung, dan lain sebagainya.

Istilah-istilah yang digunakan untuk penamaan sungai-sungai dapat dipisah dengan kata-kata yang:
1.    Berasal dari Sanskrit dan Kawi, dan penamaan mana jadinya berasal dari waktu dahulu sekali, seperti dikemukakan di atas.
2.    Menjelaskan bagaimana sifat dari sungai: berang (marah), harus (bersuara keras), tarik (mengalir cepat), sunter (bergetar keras), leuleuy (mengalir halus), gereleng (suara bebatuan bergerak/mengalir), beber (berlumpur).
3.    Menunjuk warna dari air; bodas (putih), hideung (hitam), muruy (dimana orang dapat bercermin), biru, beureum (merah), jingga (oranye), hejo (dan poetisch jenar = hijau), borelang (banyak warna), koneng (kurkuma: darimana warna kuning disadap), beet (berbagai macam warna).
4.    Melaporkan keadaan: biyuk (bau), haseum (asem), balirang (walirang, mengandung belerang), asin (rasa garam), herang (jernih; helder), kiruh (keruh), keumeuh atau kiih (urine; air seni), amis (manis), merang (membuat gatal).
5.    Terkait banyaknya air: mahi (cukup), saat (kering), tuhur (kering), burial (bergolak).
6.    Terkait jalannya aliran sungai: buni (tersimpan), lingkung (berbelok-belok), lanang (kelaki-lakian), wadon (kewanitaan).
7.    Menerangkan apa yang terkesan pada waktu pemberian nama pertama kali seperti:
•    binatang seperti badak, buruy (kodok muda), cacing, kalong, sondari (ayam hutan), lutung (monyet), belekek (burung belekok), lalay (kalong).
•    Ikan seperti paray (ikan jenis kecil), bogo (sejenis ikan gabus), hurang (garnaal).
•    Pohon dan tanaman seperti kumpay (jenis anggrek), kondang (pohon fijg), tarum (indigo), jambu, bareno.
•    Jaringan pipa air umumnya memakai nama susukan, sedangkan nama-nama: talang, ereng (saluran pembuangan), pancoran (jalan air dari bambu), solokan (kanal), parigi (selokan yang digali) umumnya dihubungkan dengan kata-kata gede (besar), anjar (baru), lawas (tua).
•    Sumber air, yang mengandung air panas, tanpa kecuali bernama Ci Panas. Nama seuseupan menerangkan, bahwa sumber air memiliki air asin, sedangkan istilah sumur dipakai terutama untuk kedalaman yang bukan alami, darimana air muncul. Sumber asal dari satu sungai sering dinamakan dengan kata sirah (kepala) dan bila ini sekaligus merupakan sumber air maka dipakai istilah bulakan. Nama Sangkanurip dilereng G. Cirime mangacu kepada tersedianya banyak sumber air (kawi: sangkan = banyak).
•    Di dataran tinggi Bandoeng akan dijumpai nama dalam jumlah banyak yang terbentuk dengan kata ranca (kolam). Kata ini umumnya dikombinasi dengan nama-nama binatang yang ada ditempat itu seperti bagong (babi), ekek (burung parkit), heulang (elang), nilem (jenis ikan air tawar), oray (ular), bango (jenis burung bangau), dst. atau dari pohon-pohon atau rumpunan seperti pacing, bangke (bunga yang berbau tidak enak), lame (jenis karet).
•    Perbedaan antara ranca dan rawa adalah, bahwa hanya yang disebut pertama yang dapat ditanami padi.

Terkait bahasan tentang penamaan yang paling sederhana dapat diperhitungkan nama-nama sungai seperti Ci Kudapateuh, Ci Maungpaeh dst., yang artinya kuda yang pincang atau macan yang mati. Danau-danau dibedakan dalam situ (danau pegunungan yang terbentuk secara alami), dano (hamparan air), dan talaga (hamparan air besar atau danau kawah), sedangkan untuk telaga ikan diberi nama empang atau balong, yang mana tergantung dari besar kecilnya. Kadangkala dipakai nama-nama yang aneh, yang mana didasari suatu kesamaan, yang dilihat orang Sunda darinya seperti Situ Birit (pantat), Situ Bagendit (Baga Kendit = “maaf” kemaluan wanita).


Responses

  1. kang, kalo istilah bulakan artinya apa?
    trus, kapan toponimi jawa barat (4)-nya?
    kang saya kekurangan referensi tentang toponimi tempat (kampung), mungkin di buku yang akang terjemahkan itu ada? akang kan ahli dan bidannya toponimi.
    nuhun kang, mohon bantuannya.

    • Mohon maaf heula atuh Kang, saya tidak punya bukunya van Gent, tulisan ini semua berasal dari guru saya Pak Klaas, beliau yang mencoba menerjemahkan buku van Gent di sela-sela kesibukan beliau…sampai saat ini belum ada lanjutannya lagi, setia menanti nih statusnya hehehe

  2. ha ha ha
    iya setia menanti kan namanya juga CINTA
    Cinta Indonesia….. jadi ditunggu aja deh!

  3. kang blom da yang baru yah!
    nunggu nya lama yah…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: