Posted by: agustan | March 17, 2009

Toponimi daerah Jawa Barat (4)

Sebelumnya mohon maaf agak telat, khususnya buat Kang Agung, kuncen Sukabumi…

Kali ini tentang penamaan unsur pemukiman di daerah Jawa Barat, masih berasal dari buku Van Gent yang diterjemahkan oleh guru Kami, Bapak Klaas J. Villanueva.

 

Desa pada umumnya disebut dengan kata lembur; satu kumpulan mendapat nama kampung, pa-dukuh-an atau ampian (Banten). Kebanyakan nama-nama desa terbentuk dengan Ci dan jadi menyandang dari sungai, di samping mana desa itu terletak. Dikarenakan Jawa Barat yang kaya air dan kurang berpenduduk (tahun 1915, waktu Van Gent menulis laporan ini) itu dan tiap kumpulan keluarga dapat mandiri bermukim di sebelah aliran air satu sungai, maka tumbuh kebiasaan untuk menyebut pemukiman itu, yang batas-batasnya ditentukan dengan pemisahan oleh air, dengan nama sungai.

Dalam nama-nama desa sering tersimpan ingatan tentang pemukiman yang pertama; perbedaan dalam penamaan jenis ini juga sangat besar, sehingga beberapa perlu dilaporkan. Sebutan yang paling sering muncul, dan yang umumnya terkait dengan nama desa induk ialah babakan (diturunkan dari babak = pengulitan dari kulit, jadi babakan = pembukaan baru). Contohnya dekat Cimahi ditemukan Bab. Garut, di Sumedang ada Bab. Bandung dst., artinya digarap orang-orang dari Garut, Bandung dst.

 

Penamaan lain, baik yang berdiri sendiri atau hasil penggabungan, yang juga dipakai, adalah: pondok (hut, tempat bermalam), luwuk (tempat), balandungan (los atau bangsal (loods), bangunan kayu), saung (gubug sederhana), latar dan buruan (halaman), cantilan (pemukiman), gandek (bangunan gandengan), talahab (gubug bambu yang terbuka), babalean (bangku istirahat), kandang, gubug, ranggon (rumah di pohon – seperti yang sebelum 1850 masih ditemukan di pantai selatan -), pangkalan (tempat tinggal sementara, atau pelabuhan di sungai), papango (rumah jaga ), joglo (gubug kecil), warung (tempat jualan), gardu (rumah jaga), sindang (tempat nginap) dst.

 

Tidak mengherankan, bahwa nama dari dia, yang pertama bermukim disitu, tersimpan terus dalam nama desa. Kendatipun yang demikian tidak sesering terjadi seperti di Jawa Tengah, nama-nama Desa Samsir, Desa Ciwastra, Desa Bojongbraja cukup menjelaskan bahwa SAMSIR, WASTRA, BRADJA adalah pendirinya. Juga Desa Soeradita di Cisedane namanya terkait Sersan (pribumi) SOERADITA, yang tahun 1705 memperoleh tanah disitu. Dalam kasus lain pemukiman atau pengarapan memperoleh nama desa dari asal para pendatang dan jarang ditemui pengulangan; seperti telah dikemukakan diatas kebiasaan itu telah mengakar di Jawa.

 

Perbedaan utama dari tanah-tanah tegal (lapangan yang ditumbuhi), talun (pengarapan baru), kebon (kebun), sawah atau serang (diairi), huma (sawah tak diairi, juga disebut tipar dan gaga), bera (tanah terbuka tidak digarap), lapang (tanah datar tidak ditanami), bubulak (padang rumput) sering ditemukan dalam banyak nama. Keadaan dimana kebanyakan desa terbentuk diwaktu yang cukup muda, telah mengakibatkan, bahwa sebutan-sebutan seperti tajur (tanah yang ditanami) dan baru (pengarapan baru, terutama kebun kopi) terpakai untuk penamaan desa baru yang terbentuk disana.

 

Seringkali satu nama memberi keterangan tentang keadaan tanah setempat – tanpa perlu mempelajari peta – oleh kata-kata yang dipakai tidak disusun menyatu: jelegong (tanah yang berombak), gorowong (tempat kosong), legok (lembah dalam), waspada (pemadangan jelas), degla atau negla (pamandangan terbuka) -> Pandeglaan telah berubah menjadi Pandeglang; malangmang (terlihat tetapi kurang jelas), nanggerang (tinggi di pegunungan), patenggang (terletak tinggi dan terpisah), tenjo (pemandangan tak terhalang), ngalindung (dikelilingi gunung, berlokasi bagus), genteng (seperti untuk atap, jadi di aliran air antara gunung), ranca (lahan berawa, kolam lumpur), lega (luas), sedangkan jenis tanah dan kesuburan yang lebih atau kurang akan jelas dari sebutan-sebutan: gemuk dan lendo, cadas (berbatu), nagrag (tidak subur), lebu (pasir gunung api), kelang (kering atau layu), bongkor (di Banten = tak dibangun), tarengton (dengan banyak batu) dst.

 

Hal kelebihan atau kekurangan dari satu tempat dikemukakan dengan sebutan seperti langen (tempat bersenang), copong (tempat memulihkan batin), beres (tertata rapih), caang (diterangi cahaya), pamoyanan (disinari matahari pagi), nerdika (bebas), sedep (mengenakkan), sembawa (bahagia) dst.

 

Pemukiman di hutan-hutan seringkali mendapat penamaan gabungan dari: kadu dan leuweung (hutan), bala (hutan belantara), dungus dan rujuk (tanaman semak-semak), bihbul (semak), langgong (hutan tertutup), dst.

 

Desa-desa di lereng-lereng gunung, dengan pengulangan mengambil nama gunung dan disatukan dengan kata-kata gunung atau pasir. Lokasinya dijelaskan dengan sebutan-sebutan seperti jurang, lamping (lereng), longkrang (jurang sempit), gawir (lereng terjal), sela (pungung gunung) nagreg (berdiri tegak) dll.

 

Kampung-kampung dipingiran sungai-sungai, mendapatkan darinya sesuatu yang khas, yang ditata bersusun dengan bojong (belokan sungai), parung (tempat dangkal disungai, sering secara salah ditulis parang), leuwi (putaran air), karees (tepian dangkal sungai bertumpuk pasir), cukang (jembatan lepas), tambakan (bendungan), bendung (tanggul), tanggulan (tanggul), tambak (penutup), curug (air terjun), parakan (bagian sungai yang dibendung), pamotan (peralihan), bandungan (rakit besar untuk penyeberangan), jambatan, sask, dst.

 

Untuk penjelasan yang baik tentang lokasi satu sama lain dari kampung-kampung bernama sama ataupun bagian-bagian dari desa, selain dipakai sebutan-sebutan kaler (utara), weta (timur), kidul (selatan) dan kulon (barat), di wilayah gunung sering dipakai: tonggoh (letak lebih tinggi), tengah (letak ditengah) dan landeuh (letak lebih bawah), hilir (aliran sebelah bawah), girang (aliran disebelah atas), peuntas (diseberang sungai), lebih lanjut singkur (sendiri, kemudian), joglo (terpencil), dst.

 

Dalam penamaan dengan tanjung artinya tidak selalu titik ujung atau lidah daratan, tetapi dapat juga berarti: letak tinggi diatas punggung gunung. Tanjungsari letaknya sebagai contoh dipisahkan oleh sungai antara Preanger Utara dan Selatan; Tanjungnagara adalah satu tempat, darimana dapat dilihat keseluruhan negara (dalam hal ini Sumedang) dst.

 


Responses

  1. horeeee……
    akhirnya datang juga….
    trima kasih…terima kasih kang.

    saya telaah dulu . . . .
    comennya nyusul…..

  2. koleksi bertambah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: