Posted by: agustan | April 14, 2009

Cinnong

Cinnong adalah salah satu nama lokasi di Kabupaten Bone, sekitar daerah Tanete. Waktu saya kecil, image yang melekat di kepala saya tentang Cinnong adalah suatu daerah yang terpencil, akses sangat sulit dan identik dengan ketertinggalan. Menurut hikayat, dari daerah inilah ayah saya berasal. Cinnong artinya jernih, mungkin terkait dengan adanya sungai yang mengalir yang sangat jernih, dan ditampung oleh sebuah bendungan di daerah Wollangi. Berenang di bendungan ini sangat menyenangkan dan menyegarkan pada tahun 1980-an. Sehabis berenang, dilanjutkan dengan menyusur kebun jambu monyet (mete) sambil menikmati buahnya. Biji mete (bagian keras yang melengkung) waktu itu dinikmati dengan cara dibakar lebih dahulu. Pada waktu itu, sama dengan daerah lain di Kabupaten Bone, sumur-sumur penduduk disusun dengan menggunakan batu sungai dengan menggunakan buah bila yang dibelah dijadikan timba yang disambung dengan bambu sebagai pengganti tali. Menikmati air sumur dengan timba tradisional di daerah ini sangat menyenangkan pada waktu itu.

Beberapa hikayat menceritakan jika asal muasal kejernihan air di daerah Cinnong yang bermuara di Wollangi adalah dari mata air yang keluar dari bekas tancapan tongkat La Mellong alias Kajaolaliddong (1507 – 1586), juru bicara Kerajaan Bone yang terkenal cerdik dan sakti.

Ada satu cerita yang saya dengar dari salah seorang kerabat tentang kelakuan La Mellong yang tidak pernah saya lupa, berikut kisahnya:

Pada suatu waktu, daerah Kerajaan Bone dilanda kekurangan pangan karena tanah yang kurang subur untuk pertanian, sehingga membuat rakyat khawatir. Para pemikir dan penasehat kerajaan waktu itu menyarankan kepada raja untuk menyuburkan tanah dengan ‘pupuk alami’ yaitu dengan kotoran manusia. Maka pada sore itu bersabdalah sang raja dan memerintahkan seluruh rakyat Bone untuk esok paginya ramai-ramai buang air besar (BAB) di sawah masing-masing. Pada keesokan paginya, berbondong-bondonglah rakyat Bone turun ke sawah untuk BAB. Tetapi tak berapa lama, terjadi kegaduhan karena La Mellong mengamuk sambil memarahi orang-orang dan melarang kegiatan itu. Alhasil beberapa rakyat datang mengadu ke raja dan berharap agar La Mellong dihukum. Akhirnya La Mellong dipanggil menghadap raja dan diadili. Kata Raja: Hai La Mellong, mengapa engkau melarang rakyatku melaksanakan perintahku? Apakah kamu paham kalau melawan perintah raja sangat berat hukumannya?. Tidak paduka, saya tidak melawan perintah tuan, kalau boleh saya tahu, apa perintah tuanku? Jawab La Mellong. Kata raja: Aku memerintahkan rakyat untuk BAB di sawah mereka masing-masing. Nah itu dia Tuan, saya mengamuk karena melihat mereka tidak menjalankan perintah Tuan, saya melihat mereka tidak hanya BAB, tetapi sebelumnya mereka buang air kecil dulu…jawab La Mellong. Akhirnya raja tersenyum mendengar alasan La Mellong, dan sejak itu La Mellong diangkat menjadi juru bicara dan duta besar Kerajaan Bone.

Kaitannya dengan toponimi? semoga saja cerita tadi bisa memberikan pemahaman proses pembentukan nama pemukiman di Bone (masyarakat Bugis), yang biasanya punya latar belakang yang menarik.

Kembali ke Cinnong, saat terakhir berkunjung ke sana, listrik sudah masuk, tetapi terjadi pendangkalan terhadap sungai dan bendungan Wollangi, juga terjadi penyusutan luas kebun dan sawah yang hijau, tetapi…kesegaran airnya masih tetap sama, apalagi air kelapa muda dari kebun kakek…


Responses

  1. kereeen…………
    bangga dgn la mellong yg sper cerdas n genius….
    ewako bone,…….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: