Posted by: agustan | June 17, 2009

Toponimi daerah Jawa Barat (6)

Kali ini lanjutan penamaan unsur pemukiman di daerah Jawa Barat, masih berasal dari buku Van Gent yang diterjemahkan oleh guru Kami, Bapak Klaas J. Villanueva.

Selain berkaitan dengan nama sungai, nama pemukiman di Jawa Barat berasal dari jenis tumbuhan, antara lain yang tercatat adalah:
Dari jenis pohon-pohon liar
– Muncang (sejenis kemiri),
– Caringin (waringin),
– Sinagar dan gebang (jenis pohon palem),
– Angsana dan teureup (berkaret),
– Kiara, kolelet dan hampelas (jenis ficus; ficussoorten),
– Kareumbi dan koeray (dengan kayu lembek),
– Dahu (dengan buah masam),
– Secang (pohon kayu cat),
– Nagasari (akasia) dan lebihkruang dikenal seperti garut (yaitu sejenis akasia, yang sebagai contoh ditemukan juga di ibukota yang bernama sama dari wilayah),
– Medang (nama Sumedang menurut beberapa orang berarti tidak lain daripada pohon medang yang besar),
– Leles, dan lainnya.

Juga ada beberapa dari nama-nama pohon-pohon hutan, misalnya: nangsi, gintung, bunut, karoja, putri (Banyak orang cenderung untuk memberi pada sebutan putri arti seorang anak perempuan raja; kecuali untuk beberapa kasus, semua penamaan dengan putri, yang umumnya menyangkut gunung, terkait dengan ditemukannya pohon putri (cemara) disana).

Advertisements
Posted by: agustan | May 20, 2009

Ibu

Sudah lebih setahun mencoba mengolah data Gunung Ibu dari PALSAR untuk melihat pengaruh aktifitas gunung api terhadap perubahan permukaan. Sebagai informasi, Gunung Ibu terletak di Pulau Halmahera. Tertarik dengan toponimi daerah Maluku, ada satu artikel yang menarik untuk dibaca: Ternate the Residency and Its Sultanate
bisa dibaca di http://www.sil.si.edu/DigitalCollections/Anthropology/Ternate/

sil9-1-011a

Lokasi Gunung Ibu
lokasi_gunung_ibu

Ternyata nama Ibu (Iboo) adalah nama sebuah desa, yang termasuk dalam wilayah Gamkonorah dalam Kesultanan Ternate. Menurut buku ini, “Gamu” dan dibaca “gam” artinya kota atau tempat. Sehingga nama Gunung Ibu dan Gunung Gamkonorah asalnya dari nama pemukiman atau wilayah tempat kedua gunung tersebut berada.
Diceritakan juga bahwa dulu nama Kampung Ibu ini adalah Gam Lamo yang juga dialiri oleh Sungai Ibu.
Dan ternyata, lokasi ini mempunya bahasa lokal sendiri yang menurut SIL International (the Summer Institute of Linguistics) sudah hampir punah, yang pada waktu diteliti tahun 1984, hanya dimengerti oleh 50 orang dari 200 pupulasi saat itu. Mengapa hampir punah?
Mungkin bisa dikaitkan dengan artikel yang ditulis J. Collins “Language death in Maluku; The impact of the VOC” In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 159 (2003).
Apakah ada kaitan antara “Ibu” dengan “mama atau bunda”? saya juga belum jelas sampai sekarang. Yang jelas jangan pernah lupa untuk mendoakan dan memohon doa restu dari ibu kita masing-masing…love you mom and miss you so much :). Jadi pengen nyanyi

Chorus
Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter.
With me everything is ok.
Mother, how are you today?

Mother, don’t worry, I’m fine.
Promise to see you this summer.
This time there will be no delay.
Mother, how are you today?

Verse
I found the man of my dreams.
Next time you will get to know him.
Many things happened while I was away.
Mother, how are you today?

Hasil interferometri dari Gunungapi Ibu, yang data PALSARnya dari Bapak Prof. Hasanuddin Abidin.
interferogram1

Posted by: agustan | May 4, 2009

Satu Kampung Tiga Nama…

Baru saja membaca artikel ringan di harian digital KOMPAS
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/05/04/14161124/Satu.Kampung.Tiga.Nama…
cukup menarik karena fenomena ini sering ditemui di wilayah Indonesia. Semuanya tergantung kepada yang menyebut dan mengenalkannya ke “pihak luar”, dan di sinilah peran penting pemerintah untuk menetapkan “versi” baku untuk tertib administrasi. Tetapi dalam menetapkan nama bakunya sebaiknya memperhatikan “sejarah” dan asal usul nama lokasi tersebut. Ada salah satu perjanjian tidak tertulis dalam pembakuan nama geografis yaitu berdasarkan yang “tertua” atau “yang paling awal” jika unsur geografis tersebut mempunyai banyak nama. Hal seperti ini banyak dijumpai di Indonesia bagian timur, utamanya nama pulau-pulau kecil atau kampung pemukiman. Sebabnya terkait langsung dengan “keanekaragaman suku dan bahasa daerah” yang “dulu pernah atau sedang mendiami” lokasi tersebut. Nama satu kampung, desa atau pulau yang sama mungkin akan berbeda jika ditanyakan kepada orang Ambon, orang Papua atau orang Bugis yang berdiam di sana. Jika ingin dibakukan sebaiknya mengacu kepada nama dalam bahasa lokal atau berdasarkan kelompok yang paling pertama mendiami lokasi tersebut.

Berikut adalah liputan dari Kompas (copy and paste mode). Apabila dibaca, banyak penulisan nama kampung yang belum sesuai dengan kaidah Toponimi…jika ada waktu luang atau tertarik silahkan dikoreksi hehehe…
(Misalnya penulisan nama Kecamatan Kampung Laut seharusnya Kecamatan Kampunglaut).
Jikalau ada yang sudi meneruskan info ini kepada para pewarta atau penulis berita, alangkah senangnya…:)

Senin, 4 Mei 2009 | 14:16 WIB
Laporan wartawan KOMPAS M Suprihadi

KOMPAS.com – Orang Jawa memang biasa punya nama panggilan atau sebutan. Kadang kala, nama panggilan atau sebutan itu sama sekali berbeda dengan nama aslinya. Ada misalnya Bambang dipanggil Bagong atau Goplo karena bentuk badannya yang gemuk.

Ada yang karena badannya kerempeng pendek dipanggil Gareng. Ada yang karena kepalanya besar menyerupai palu lalu diparabi Ganden. Tapi ada juga teman saya dipanggil Merit bukan karena tubuhnya kurus kerempeng, tapi justru karena namanya Sigit, sehingga secara fonetik mudah diingat menjadi Sigit Merit.

Tak jarang juga yang tidak jelas dari mana asal nama panggilan itu. Misalnya teman saya bernama Joko tapi dipanggil Bantuk, Sriwidadi dipanggil Gadut, dan saya sendiri dipanggil Santjuk.

Nah, berkait dengan nama sebutan itu, rupanya nama kampung pun bisa disebut bermacam-macam, yang satu dan lainnya tak berhubungan. Bahkan banyak penduduknya yang tak tahu menahu kenapa nama itu dipakai.

Kampung Ujung Alang di Desa Motean, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap misalnya, biasa disebut Kampung Pejagan dan Ujung Alang itu sendiri, selain juga Kampung Motean. “Dulu namanya Motean, terus pernah disebut Pejagan, dan sekarang Ujung Alang,” kata Maryoto, penduduk setempat yang ditemui di Dermaga Ujung Alang, Senin (4/5).

Jawaban yang sama disampaikan sejumlah ibu yang sedang menunggu perahu sompreng ke kota Cilacap. “Memang kampung ini punya banyak nama,” kata seorang ibu yang tak mau menyebut namanya. “Ora usah ditulis jenenge bae lah,” katanya.

Posted by: agustan | April 27, 2009

Toponimi daerah Jawa Barat (5)

Lanjutan dari terjemahan tulisan van Gent oleh Pak Klaas J. Villanueva, kali ini tentang unsur “kejuruan” atau profesi dalam nama desa. Salah satu kearifan masa lalu yang sangat menghargai profesi atau keahlian sehingga diabadikan dalam nama desa.

Desa Paneuleum = desa pengecat biru,
Desa Panjunan atau Pariyuk = desa pembuat panci dari tanah,
Desa Paledang = desa pengrajin tembaga
Desa Sayang = desa pengrajin tembaga merah,
Desa Kamal = desa tempat pembuatan garam,
Desa Liyo = desa dimana dibuat bata dan genteng,
Desa Penjaringan = desa nelayan atau penangkap ikan.

Juga kehadiran beberapa orang atau karakter suatu kelompok dapat dicatat dengan nama seperti Desa Kabalen (wilayah orang Bali), Desa Kamandelikan (wilayah Pangeran Mandelika), Desa Panjalu (wilayah pejuang berani).

Beberapa nama terkait dengan pembuatan jalan contohnya Andir (pengawas jalan), Jagal (pekerja wajib; heerendienstplichtge), dan Tagog (tempat jaga/kantor pos).

Terlihat bahwa masyarakat Jawa Barat sejak dulu sangat menghargai suatu keahlian atau profesi, zaman ini namanya spesialisasi…tanpa memandang apakah kerjaan kantoran, lapangan, kasar, halus dan lain sebagainya, yang penting ahli dan bermanfaat…
Selamat berkarya dan sukses terus!~

Posted by: agustan | April 14, 2009

Cinnong

Cinnong adalah salah satu nama lokasi di Kabupaten Bone, sekitar daerah Tanete. Waktu saya kecil, image yang melekat di kepala saya tentang Cinnong adalah suatu daerah yang terpencil, akses sangat sulit dan identik dengan ketertinggalan. Menurut hikayat, dari daerah inilah ayah saya berasal. Cinnong artinya jernih, mungkin terkait dengan adanya sungai yang mengalir yang sangat jernih, dan ditampung oleh sebuah bendungan di daerah Wollangi. Berenang di bendungan ini sangat menyenangkan dan menyegarkan pada tahun 1980-an. Sehabis berenang, dilanjutkan dengan menyusur kebun jambu monyet (mete) sambil menikmati buahnya. Biji mete (bagian keras yang melengkung) waktu itu dinikmati dengan cara dibakar lebih dahulu. Pada waktu itu, sama dengan daerah lain di Kabupaten Bone, sumur-sumur penduduk disusun dengan menggunakan batu sungai dengan menggunakan buah bila yang dibelah dijadikan timba yang disambung dengan bambu sebagai pengganti tali. Menikmati air sumur dengan timba tradisional di daerah ini sangat menyenangkan pada waktu itu.

Beberapa hikayat menceritakan jika asal muasal kejernihan air di daerah Cinnong yang bermuara di Wollangi adalah dari mata air yang keluar dari bekas tancapan tongkat La Mellong alias Kajaolaliddong (1507 – 1586), juru bicara Kerajaan Bone yang terkenal cerdik dan sakti.

Ada satu cerita yang saya dengar dari salah seorang kerabat tentang kelakuan La Mellong yang tidak pernah saya lupa, berikut kisahnya:

Pada suatu waktu, daerah Kerajaan Bone dilanda kekurangan pangan karena tanah yang kurang subur untuk pertanian, sehingga membuat rakyat khawatir. Para pemikir dan penasehat kerajaan waktu itu menyarankan kepada raja untuk menyuburkan tanah dengan ‘pupuk alami’ yaitu dengan kotoran manusia. Maka pada sore itu bersabdalah sang raja dan memerintahkan seluruh rakyat Bone untuk esok paginya ramai-ramai buang air besar (BAB) di sawah masing-masing. Pada keesokan paginya, berbondong-bondonglah rakyat Bone turun ke sawah untuk BAB. Tetapi tak berapa lama, terjadi kegaduhan karena La Mellong mengamuk sambil memarahi orang-orang dan melarang kegiatan itu. Alhasil beberapa rakyat datang mengadu ke raja dan berharap agar La Mellong dihukum. Akhirnya La Mellong dipanggil menghadap raja dan diadili. Kata Raja: Hai La Mellong, mengapa engkau melarang rakyatku melaksanakan perintahku? Apakah kamu paham kalau melawan perintah raja sangat berat hukumannya?. Tidak paduka, saya tidak melawan perintah tuan, kalau boleh saya tahu, apa perintah tuanku? Jawab La Mellong. Kata raja: Aku memerintahkan rakyat untuk BAB di sawah mereka masing-masing. Nah itu dia Tuan, saya mengamuk karena melihat mereka tidak menjalankan perintah Tuan, saya melihat mereka tidak hanya BAB, tetapi sebelumnya mereka buang air kecil dulu…jawab La Mellong. Akhirnya raja tersenyum mendengar alasan La Mellong, dan sejak itu La Mellong diangkat menjadi juru bicara dan duta besar Kerajaan Bone.

Kaitannya dengan toponimi? semoga saja cerita tadi bisa memberikan pemahaman proses pembentukan nama pemukiman di Bone (masyarakat Bugis), yang biasanya punya latar belakang yang menarik.

Kembali ke Cinnong, saat terakhir berkunjung ke sana, listrik sudah masuk, tetapi terjadi pendangkalan terhadap sungai dan bendungan Wollangi, juga terjadi penyusutan luas kebun dan sawah yang hijau, tetapi…kesegaran airnya masih tetap sama, apalagi air kelapa muda dari kebun kakek…

« Newer Posts - Older Posts »

Categories